Thursday, January 31, 2019

.... Bahwa tagar IbuNegaraAsyik yang inspiratif ini ternyata digunakan oleh para buzzer untuk men- "degradasi" personal Prabowo Subianto pada kontestasi Pilpres 2019 ini.

Padahal ...

....Konstitusi ( UUD 1945 berikut amandemen ) sama sekali tidak ada ketentuan tentang Ibu Negara, yang dengan demikian sama sekali tidak ada peran formil dari seorang isteri Presiden dalam ketatanegaraan Indonesia.

ARTINYA, menonjol-nonjolkan tentang kisah perkawinan JUSTRU patut diduga malah mengkonfirmasi tidak adanya kelebihan lain dari sesorang, karena bicara ttg Kepempimpinan sejatinya adalah bicara soal kemampuan merumuskan Gagasan Besar ( berikut memperjuangkannya ) yang dimaksudkan untuk kepentingan Orang banyak, meski terkadang ada kehidupan pribadi yang terkoyak.

Kepemimpinan TIDAK-LAH CUKUP hanya dengan pembuktian ekspose video-video / foto-foto indah kebersamaan keluarga atau momong cucu hingga menjadi headline utama pemberitaan media massa, Sementara pada kesempatan lain... hanya untuk "sekedar konsisten"  dalam hitungan hari saja tidak mampu, hingga "dikoreksi" oleh bawahannya  πŸ˜ŒπŸ˜”☹️

Indonesia Negara Besar ( ingat.... kalau ngomongin besar itu tentang penduduk, sumber daya dan potensi lainnya ) dan Negara Luas ( kalau ini bicara ttg KM2 wilayah ), yang itu membutuhkan Leadership yang tegas ! Kecakapan yang mumpuni ! dan Kemandirian yang independen !

By Tara Palasara

---------------------------------------------------------------------
Photo : didiclick
Episode kangen masakan Jawa Timur. Trus ngajak ibu Jajan bersama keluarga adik.
Dan Warung Pak Hasyim direkomendasikan menjadi tempat melepas kerinduan itu.
Menu Jatim komplit. Ada Tahu Tek, Tahu Telur, Tahu Campur, Lontong Balap, Lontong Kupang plus dikancani Sate Kikil.
Alhamdulillah ibu tasih kerso dahar makanan yang berbumbu legit-legit petis begini.

Ibuku dimataku adalah seorang ibu negara keluarga kami......hehehe
Saat masih sehat beliau adalah wanita mandiri

yang kuat....
LDR beberapa tahun dengan bapak yang sedang menuntut ilmu di Amerika beliau jalani dengan tabah....
Ditemani  tantangan mendidik putra-putri yang cukup banyak dan masih pada berebut perhatian saat itu...

Sehat-sehat njih bu....Aamiin.


Sunday, January 27, 2019

Copas ...

Seorang anak mengamati bagaimana Ayahnya rajin membaca Al-Qur'an namun tak kunjung hafal selain Alfatihah dan surat-surat pendek. Ia lalu berkata pada Ayahnya,

"Wahai Ayah, engkau rajin membaca Al-Quran namun tak kunjung engkau hafal selain sedikit. Lalu apa gunanya buatmu?"

Ayahnya menjawab,
"Ada gunanya. Permisalan bacaanku ini seperti jika engkau mengambil air laut dengan keranjang bambu."

"Bagaimana bisa? Tentu airnya akan keluar celah keranjang."
Sangkal anaknya.

"Kalau engkau benar ingin tahu coba lakukan saja."
Jawab Ayahnya.

Maka si anak mengambil keranjang bambu yang biasa mereka gunakan menampung arang untuk mengambil air laut. Berkali-kali ia mencoba mengambil tapi sia-sia, airnya selalu menerobos celah-celah keranjang bambu.

Pada akhirnya si anak menyerah karena lelah, ia protes pada Ayahnya,
"Sungguh ini pekerjaan sia-sia. Tidak ada gunanya, yah."
.
"Tidak." jawab Ayahnya.
"Engkau memang tidak bisa mengambil air laut, tapi coba lihat keranjang bambu itu."

Si anak melihat dan ia baru menyadari kalau keranjang itu kini bersih tanpa ada bekas hitam dari arang.

"Adakah kau lihat sedikit saja warna hitam bekas arangnya?" Tanya sang Ayah.

"Tidak ada. Sudah bersih." Jawab si anak.

"Seperti itulah, aku memang tidak mampu menampung Al-Quran dalam kepalaku, namun Al-Quran telah membersihkan hatiku." Nasehat sang Ayah.

Rajinlah membaca Al-Qur'an meski belum mampu menghafalnya.
Lalu berusahalah mengerti artinya.

πŸ“ Kisah disampaikan pada saat kajian tafsir Ibnu Katsir sampai pada surat al-Furqon

πŸ‘€Ustadz Mubarak Bamuallim, Lc., M.H.I.

Photo : didiclick

Naila saat tes penempatan di Program Tahfidz - Al Qur'an Camp YKTN Salatiga.
Semangat ya Nai, walau belum bisa tembus sepekan 5 juz. Namun banyak pelajaran yang bisa diambil dari kita mondok berdua di sana.
Dan emak baru tahu, kalau kau begitu ingin menjadi pribadi mandiri. Kok yo wis isin lek ndusel-ndusel emak-e terus....hahaha


Saturday, January 26, 2019

Menurut emak, kita boleh saja menjelaskan kepada orang lain pertimbangan kita dalam memperjuangkan sesuatu, tetapi jangan sekali-kali membujuk, apalagi menghasut, agar dia ikut serta.

Kalaupun dia memutuskan untuk ikut berjuang, keputusan itu merupakan hasil pertimbangan sendiri atas tanggung jawabnya sendiri. Ketentuan yang sama juga berlaku bagi diriku.

Kalau aku menganggap perlu ikut bertarung memperjuangkan sesuatu yang telah dimulai oleh seseorang, hal itu seharusnya kulakukan karena kehendak nuraniku sendiri, bukan karen anjuran yang lain.

Jadi dalam memperjuangkan sesuatu harus bermodalkan keberanian dan keyakinan sendiri.

-Emak- hal 106
By Doed Joesoef

------------------------------------------------------------------------
Photo : by friend
Ngancani Bang Sandi keliling Pasar Raya Salatiga. Sampai di titik istirahat. Sudah disambut hidangan Tumpang Koyor makanan khas kota kecil kami.
Namun hari itu ternyata beliau sedang berpuasa. Staminanya memang keren. Aku aja langsung tepar njarem sikil dan kelaparan.....hahaha.
Wajahku sampai kucel tertimpa terik mentari. Tapi coba lihat bang Sandi.....tak tampak lelah padahal setelah Salatiga beliau harus menuju titik lainnya. Salut Bang.....Doa kami bersama-mu

Note :
ben ra salah persepsi. Jelas bang Sandi nggak kenal aku......hahaha.
Aku dikasih kesempatan beliau buat bikin dokumentas pribadi. Udah pernah photo bersama Wakil Presiden 2019 Republik Indonesia. Aamiin

Thursday, January 24, 2019

Underdog

Nadia : Mama, team kami serasa jadi underdog saat ini. (Curhatan dia tentang situasi saat itu).

Emak : lah nopo kok bisa begitu?

Maka meluncurkan kisah 1001 malam. Eh salah yo....kisah curhatan dia dan teman-teman.

Nadia : teman-teman jadi down dan bla...bla....bla....

Ok, sudah sedikit paham arah peristiwa. Baik, mulai sekarang kita susun strategi baru bersama para ortu yang lain. Lakukan sampai titik darah penghabisan. Mengenai hasil serahkan pada yang Kuasa.

Doa dan Upaya. OK.

Upaya mereka mengalahkan ego, tangis disana sini, kerja keras mereka berhari-hari, semangat guru2 yang membimbing mereka, jatuh bangun ortu mendampingi dari latihan sampai mencarikan properti. Berbuah manis ketika bertemu dengan Takdir dari Allah Yang Maha Pengasih. "Mama....kita Juara"......

Terima kasih ya Allah, untuk rejeki prestasi ini. Aamiin.

Salatiga, 24 Januari 2019

H-2 Edisi beres2 file trus nemu koran ini.
Siap-siap mbolang menuju bumi Allah yang lain lagi....

Juni 2017 - Perjalanan yang menyimpan kenangan tak terlupakan.
Sebulan kemudian si dia pindah sekolah.....hehehe

#2017GlobalYouthFestival
#Korea Selatan



Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah
Esai khasanah

By : Emha Ainun Nadjib 

Di tengah Bapak kami bercerita tentang “Kenapa Bukan Sunan Kalijaga saja yang jadi Sultan”, “Kenapa pendiri Jombang tidak duduk memimpin Jombang”, “Amanah Cincin dari Mbah Kholil Bangkalan”, “Aliran Pencak Silat Ki Tebuireng” — Kakak lagi-lagi mengejar soal rasa bersalah sebagai modal utama pada jiwa seorang pemimpin.

Karena di tengah kisah-kisah itu Bapak nyeletuk: Rakyat yang paling sial di suatu desa, atau yang paling celaka di suatu Negara, adalah kalau pemimpinnya tidak punya rasa bersalah.

“Apa ada pemimpin yang seperti itu”, Kakak nyeletuk.

“Kenapa tidak”, jawab Bapak, “Banyak faktor yang bisa menjadi sebab seorang pemimpin tak punya rasa bersalah”

“Contohnya, Pak”

“Banyak sekali. Umpamanya: orang menjadi pemimpin karena ambisi pribadi. Menjadi pemimpin karena karier. Menjadi pemimpin karena direkayasa oleh sindikat penjudi dan penjahat. Menjadi pemimpin untuk menumpuk kekayaan…”

“Kok mengerikan begitu”, kata Kakak.

“Ada juga karena ia memang tidak paham bahwa menjadi pemimpin adalah menjadi buruhnya rakyat. Sehingga ia tidak sungguh-sungguh dan tidak lengkap menguasai peta permasalahan yang ditanganinya, sehingga ia tidak punya ukuran untuk menilai apakah ia sedang melakukan kebenaran atau kesalahan”

“Tapi benar atau salah kan tergantung pijakan pandangnya”, Kakak membantah, “Seorang Kepala Negara bisa merasa benar menurut kepentingan kekuasaannya, tapi bisa salah kalau dilihat dari kedaulatan rakyat atas kesejahteraannya”

Bapak menjelaskan: “Justru yang saya maksud adalah pemimpin yang tidak mampu mengurai beda antara kepentingannya untuk melestarikan kekuasaannya, dengan hak-hak rakyat untuk mendapatkan keadilan”

“Apa mungkin suatu bangsa atau rakyat memilih pemimpin yang tidak memiliki tata logika untuk memilah dua konteks itu, bahkan tidak menguasai peta permasalahan?”

“Kenapa tidak”

“Apa sedemikian terbelakangnya rakyat Negara itu sehingga memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin?”

“Kalau rakyatnya memiliki hak pilih yang otentik, seharusnya hal itu tidak terjadi”, jawab Bapak, “tetapi kalau dalam demokrasi yang berlangsung rakyat tidak punya peluang untuk benar-benar memilih pemimpin dengan nurani dan perhitungan akal sehatnya, bisa saja yang terpilih adalah Presiden yang lebih parah dibanding yang kau tanyakan itu”

“Kok bisa rakyat tidak punya peluang untuk memilih pemimpinnya?”

“Karena rakyat hanya dipilihkan oleh partai-partai politik. Ibarat pasar, ada beribu, bahkan berjuta makanan, tetapi partai politik hanya mengambil satu atau dua atau tiga makanan saja. Dan rakyat hanya punya peluang untuk memilih satu di antara dua atau tiga itu”

“Apa partai politiknya sedemikian bodohnya sehingga memilihkan satu dua makanan busuk untuk dipilih oleh rakyatnya?”

“Tidak harus bodoh. Mungkin justru sangat pandai. Hanya saja kriteria yang mereka pakai bukan kualitas kepemimpinan. Calon pemimpin dipilih berdasarkan tawar-menawar harga, berdasarkan lalulintas keuangan. Mereka saling menghitung calon-calon mana saja yang paling bisa dipakai untuk mengeruk keuntungan. Bisa saja yang dipilih adalah boneka, patung atau berhala. Yang penting menguntungkan”

“Kenapa rakyat mau memilih boneka, patung atau berhala untuk menjadi pemimpinnya?”

“Karena partai politik memperkenalkan calonnya dengan mendustakan kenyataannya. Calon pemimpin ditampilkan dengan pencitraan, pembohongan, dimake-up sedemikian rupa, dibesar-besarkan, dibaik-baikkan, diindah-indahkan, dihebat-hebatkan”

“Itu bukan politik namanya, Pak, itu kriminal”

“Memang bukan politik, melainkan perdagangan. Bukan demokrasi, melainkan perjudian. Memang bukan kepemimpinan, tapi talbis. Kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis”

“Talbis itu apa to Pak?”

“Talbis adalah Iblis menemui Adam di sorga dengan kostum dan make up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat. Maka Adam tertipu. Rakyat adalah korban talbis di berbagai lapisan. Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka. Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan”

“Apakah pemimpin yang demikian bisa berkuasa?”

“Yang benar-benar berkuasa adalah botoh-botoh yang membiayainya. Setiap langkahnya dikendalikan oleh para botoh. Setiap keputusannya sudah dipaket oleh penguasa modal. Ia tidak bisa mandiri, karena dikepung oleh kelompok-kelompok yang juga saling berebut demi melaksanakan kepentingan masing-masing”

“Apa ia tidak merasa malu menjadi boneka?”

“Itu satu rangkaian: tidak merasa bersalah, tidak malu, tidak tahu diri, tak mengerti bahwa ia sedang menyakiti dan menyusahkan rakyatnya, tidak memahami posisinya di hati masyarakat, tidak punya cermin untuk melihat wajahnya”

“Sampai separah itu, Pak?”

“Tidak punya konsep tentang martabat manusia, harga diri Bangsa dan marwah Negara. Hanya mengerti perdagangan linier dan sepenggal, tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya. Tidak memahami tanah dan akar kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan timeline matangnya bunga dan bebuahannya. Pemimpin yang demikian membawa bangsanya berlaku sebagai pengemis yang melamar ke Rentenir…”

“Pemimpin yang seperti itu akhirnya pasti jatuh dan hancur”, kata Kakak.

“Belum tentu”, kata Bapak, “Jangan lupa bahwa kalau para botoh mampu mengangkat berhala ke kursi singgasana, berarti mereka juga menguasai seluruh perangkat dan modalnya untuk bikin apa saja semau mereka di Negara itu. Juga selalu sangat banyak orang dan kelompok yang mencari keuntungan darinya, bahkan menggantungkan hidupnya. Sehingga mereka membela boneka itu mati-matian. Mereka selalu mengumumkan betapa baik dan hebatnya pemimpin yang mereka mendapatkan keuntungan darinya, sampai-sampai akhirnya mereka yakin sendiri bahwa ia benar-benar baik dan hebat. Uang, kekuasaan dan media, sanggup mengumumkan sorga sebagai neraka, dan meyakinkan neraka adalah sorga”

Yogya 1 Agustus 2017.

https://www.caknun.com/2017/pemimpin-tanpa-rasa-bersalah/

Ilustrasi Photo : kangmas
3-D Celosia - Bandungan.
Expresimu ndah tenanan toh Nai..padahal jarak kita lumayan jauh.


Saturday, January 19, 2019

Being economical doesn't mean spending money a little, but spending it for useful purpose.

Berhemat bukan berarti mengeluarkan uang sedikit sekecil-kecilnya, tetapi mengeluarkan uang untuk keperluan yang berguna.

Photo : didiclick
Salatiga 19 Jan 2019.
Ngeteh bareng Kangmas yang baru pulang mudik.....hehehe


Barusan pulang dari jemput N. Hujan gantian antara deras dan rintik. Melirik Carport, ternyata para mbak-mbak ayam lagi cangkruk di samping mobil.

Langsung terlontar :" mbak-mbak ayam, bolehlah kalian rapat di situ. Tapi nggak usah ninggal-ninggalin ya". Barusan ngomong gitu, udah nampak lepotan hijau di lantai....hahaha.

Padahal kemarin barusan tak pel jeng....ihik.
"Sabar aja lah ya. Hati ini khan kayak wafer. Berapa lapis?.......RATUSAN."

Photo : didiclik
Salatiga 19 Jan 2019
Naila heran, nopo mama kok jongkok-jongkok dekat mobil. "Nih lagi mo dokumentasi ayam rapat Nai."


Tuesday, January 15, 2019

Pluto Doyan Duren

Aku sejak dulu tidak pernah benar-benar bisa dekat dengan binatang. Jadi sampai sekarang pun binatang peliharaan tak pernah cukup lama bertahan di rumah kami.

Pernah pingin punya kolam ikan yang agak besaran. Kangmas pun minta aku berlatih dulu dengan membelikan akuarium kecil-kecilan.
Sayangnya 3 ekor ikan cupang pun tetap tak terselamatkan. Walau aku sudah ganti air dan kasih makan. ihik.

Tapi anehnya rumahku sering jadi ampiran. Kucing-kucing liar dan ayam-ayam tetangga yang tak dikandangkan di siang hari.
Jadi walau tak punya peliharaan. Tetapi kotoran-kotoran hewan kerap menghiasi lantai teras dan taman. Tak apalah semoga tanaman-tanaman mengambil manfaat darinya.

4 hari di Bogor, jadi kenalan sama si Felis Catus.. Terpesona juga melihat dia doyan makan duren. Dan sekarang jadi kangen sama gaya jalannya yang sok cuek, padahal suka di elus-elus....hehehe
Nama kucing ini Mas Pluto. Dan dia ini suka banget garuk-garuk pintu kamar. Jadi teringat horor suara di malam hari yang ternyata Mas Pluto lagi beraksi.

Wadeh kapan ya bisa ketemu Mas Pluto lagi.
Sehat-sehat ya. Hati-hati jangan sampai kesengat lebah lagi....

Bogor, 12 Januari 2019
Edisi Pluto Doyan Duren

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218505543490319&id=1247142962
Copas:
(dgn editing)

.....
Empat kepala lapas dari B, A C, dan I sepakat saling mengadakan kunjungan kerja untuk mencari tahu jenis kejahatan yang sering terjadi di negara mereka.

Negara B mendapat kesempatan pertama. Dengan wajah sedih, si kepala lapas mengajak ketiga rekannya ke penjara yang hampir kosong.

"Beginilah kondisi penjara kami. Kosong melompong. Kami kekurangan penjahat. Beberapa penjara bahkan terpaksa tutup karena tidak berpenghuni," katanya menjelaskan pada 3 rekannya yang lain.

Kepala sipir dari negara A, K, dan I melongo.

Negara A mendapat kesempatan kedua. Kepala sipir membawa tamunya ke penjara yang walaupun cukup mewah, tapi sangat menyeramkan dan terisolasi dari dunia luar.

Kepala sipir dari negara B terkaget-kaget. Dia kemudian bertanya, kejahatan apa yang telah dilakukan oleh narapidana-narapidana yang wajahnya menyeramkan tersebut.

"Kebanyakan mereka anggota geng, pengedar narkoba, psikopat dan pembunuh massal," jawab kepala sipir dari negara A.

Kesempatan ketiga jatuh pada negara K. Si kepala lapas membawa ketiga rekannya ke penjara yang sangat mengerikan, dengan wajah-wajah narapidana yang membikin bergidik mental orang yang melihatnya.

"Mereka kebanyakan produsen, penyelundup, dan pengedar narkoba," jelasnya. "Kami kewalahan dengan mereka. Kami kekurangan penjara. Bagaimana jika mereka kami kirim ke negaramu?" Tanya kepala lapas kepada tamunya yang dari negara B.

Kepala lapas dari negara B tertawa.

Dan kesempatan terakhir datang pada negara I. Tuan rumah membawa tamunya ke penjara yang bangunannya cukup tua. Yang membuat tamu-tamunya keheranan adalah wajah-wajah penghuni penjara yang jauh berbeda dengan penjara-penjara di negara A dan negara K. Wajah-wajah mereka jauh dari kesan pelaku kriminal. Tidak bisa dibandingkan dengan penjahat dari negara A dan negara K. Bahkan di antara mereka, ada ibu-ibu dan beberapa remaja yang jadi narapidana.

"Apa kejahatan mereka?" Tanya tamu dari negara B.

"Mereka kebanyakan narapidana atas kasus UU ITE, penyalahgunaan informasi elektronik," jawab kepala lapas negara I.

"Mereka hacker? White collar criminal? Pencuri data perbankan? Penipu online?" Tanya tamu dari negara A.

"Oh bukan. Mereka ditangkap karena sering mengkritik  pemerintah melalui Facebook, Twitter, dan medsos lainnya," tuan rumah menjelaskan.

Kepala lapas dari negara B, A dan K tertawa terpingkal-pingkal.

Photo : by hani
Istana Bogor
13 Januari 2019


Sunday, January 13, 2019

Kemudian sambil duduk-duduk di "Oranjeplein" dengan makan kacang goreng dan minum eskrim, paman menganjurkan aku untuk mulai melatih dan membiasakan menulis.

Pilihlah setiap kata menurut makna yang dikandungnya dan kemudian susun kata-kata itu menjadi kalimat hidup yang bertutur kepada kegelapan dan ketidakpedulian. Tunggulah gemanya.

Bila bergaung, betapapun lemah suaranya, kirim lagi kalimat-kalimat lain hingga terangkum menjadi kisah yang mengandung pesan tertentu bagi nurani manusia.

Jadikan tulisanmu itu sebagai cara kau melihat, cara kau berpikir dan merasakan, cara kau hidup, cara kau memposisikan kemanusiaanmu.

Dan siapakah yang bisa mengubah, bahkan memupus pandanganmu, meredam pikiranmu, melenyapkan pesanmu, mematikan nuranimu?

Tak ada seorang pun, tandas paman. Kau bisa mati tetapi tulisanmu tidak.

-------------------------------------------------------------------------
Cuplikan buku "Emak Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne"
By Daoed Joesoef

Photo : didiclick
Di Bis Eka jurusan Sby -Sltg. Naila lagi tertarik baca "Pulang" nya Tere Liye
Di Bab Si Babi Hutan dia terkekeh-kekeh menemukan kosakata baru "Babi Hutan"
14 Oktober 2018


Friday, January 11, 2019

Alhamdulillah....

Di bulan Januari 2019, akhirnya kesampaian juga salah satu target tahun ini. Silaturahmi ke Bogor yang sebenarnya pinginnya sudah dari 2-3 bulan lalu.

Tujuan pertama tentu saja silaturahmi ke rumah adik yang sudah betah jadi penduduk Bogor selama ini  Daripada kedahuluan beliaunya mendarat di bumi Allah yang lain lagi
(Karena keluarga ini sangat hobi pindah-pindah..hahaha), maka Rabu sore kemarin dalam hitungan 1 jam aku sudah siap packing dan memaksa ikut beliaunya pulang ke Bogor ....hahaha. Maaf ya dik Hani Handayani


Pepatah lama "Sekali dayung 2 - 3 pulau terlampaui", alhamdulillah bisa berlaku juga di moment ini.

Ternyata bisa juga slaturahmi ke teman lama yang dulu senasib jadi perantau di kota sanggata, di pelosok hutan Kalimantan Timur.

Setelah janjian lewat FB akhirnya aku bisa  berkunjung ke AB Home. Dan sosok yang bikin kepo diriku selama ini ternyata masih sama seperti dulu. Ramah dan bahasa jawa timurmu masih belum terkikis habis...dan yang utama  beliaunya mau banget meluangkan waktunya sampai ada appoitment yang dibatalkan gara2 nggak terasa sesi silaturahmi ini menghabiskan waktu 3 jam konseling kayaknya ya......hahaha.

Jazakillah khoiron emak Diena Syarifa. Obrolannya sangat  menginspirasi . "Saya cuma ingin membuat mereka tertawa bahagia dalam proses pendidikannya". Itu yang sangat membekas dari obrolan kita hari ini.

Sedangkan adikku @hani Handayani sangat terkesan oleh ceritamu hingga terkongklusi hidden message dari perjalanan hidupmu : "jika kamu melakukan sesuatu karena ingin membantu orang lain. Entah bagaimana Allah akan mudahkan urusanmu dan membukakan jalan selebar-lebarnya untukmu untuk lebih bermanfaat lagi buat orang lain"

Semoga ku bisa memaknai perjumpaan kemarin dengan baik dan mulai bergerak.
"Mulailah gerakan dari hal yang kecil dan kau sukai" itu pesanmu kemarin.

Sekali lagi Jazakillah khoiron sudah menjadi inspirasiku selama ini.....

BTW :
Emak Diena Syarifa Ojo ngomong aku lebay yo dengan tulisan ini. Iki tenanan. Masio dirimu ra percoyo. (Arek Suroboyo lak ra basa-basi...wkwkwk)

Photo : by Shifa
AB Home - Bogor
11 Januari 2019




Tuesday, January 8, 2019

Kalau buku ini sudah keluar dari lemari, mak Nunuk Rahmawati
Hmmmm.....berarti diagnosa sudah hampir 90 persen positif.

Pening awak lihat barang-barang yang sudah harus diinventarisir.

Moga-moga tidak ada lagi kejadian satu kardus penuh berisi buku, kamus dan koleksi perangko anak-anak hilang tak tentu rimbanya.

Atau lemari-lemari yang kehilangan baut dan kita lupa cara merakitnya.
Ditambah box plastik yang pecah karena handling yang tak semulus iklannya.

Sebulan, dua bulan ataupun setengah tahun pun
Masih bisa jadi cerita yang kita rajut bersama.
Karena persahabatan itu selalu penuh asa.
Dan aku yakin kau tetap tertawa, melihat catatan tak ada ujungnya.......

Photo : didiclick
Bakso Mledos - Salatiga
8 Januari 2019
Kalau buku ini sudah keluar dari lemari, mak Nunuk Rahmawati
Hmmmm.....berarti diagnosa sudah hampir 90 persen positif.

Pening awak lihat barang-barang yang sudah harus diinventarisir.

Moga-moga tidak ada lagi kejadian satu kardus penuh berisi buku, kamus dan koleksi perangko anak-anak hilang tak tentu rimbanya.

Atau lemari-lemari yang kehilangan baut dan kita lupa cara merakitnya.
Ditambah box plastik yang pecah karena handling yang tak semulus iklannya.

Sebulan, dua bulan ataupun setengah tahun pun
Masih bisa jadi cerita yang kita rajut bersama.
Karena persahabatan itu selalu penuh asa.
Dan aku yakin kau tetap tertawa, melihat catatan tak ada ujungnya.......

Photo : didiclick
Bakso Mledos - Salatiga
8 Januari 2019