Showing posts with label 08 renungan. Show all posts
Showing posts with label 08 renungan. Show all posts
Thursday, November 2, 2017
Hanya Pinjaman
Mengupas surat Al Hadid 57:7 hari ini membawa kita ke pemahaman bahwa dalam mengelola harta yang diamanahkan kepada kita maka yang utama kita harus tekankan adalah masalah KEIMANAN.
"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya".
Dimana menurut Bahasa -- Iman memiliki makna Pembenaran Hati.
Sedangkan menurut Istilah -- Aisyah rz berkata : Iman kepada Allah itu berarti Membenarkan dengan hati, Mengikhrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota tubuh.
"Membenarkan dengan hati" maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
"Mengikrarkan dengan lisan" maksdunya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat "Asyhadu alla illaha illahu wa asyhadu anna Muhammada Rasululah" [Tidak ada sesembahan yang hak kecuai Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah]
"Mengalamkan dengan anggota badan" maksudnya, anggota badan mengamalkan dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Dimana semua amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkuran seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.
Jika IMAN telah merasuk dalam diri kita maka semua masalah pengelolaan amanah berupa harta yang diberikan Allah kepada kita akan selalu berfokus kepada KEIMANAN kita.
"Dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (Amanah).
Mengandung makna bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk menginfakkan harta yang sebenarnya adalah pinjaman yang diberikan Allah kepada kita.
Dimana infaq disini adalah infaq yang dianjurkan dalam agama, seperti berinfaq kepada fakir miskin dan berinfaq di jalan Allah untuk menolong agama Allah.
"Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar"
Dan Allah SWT sendiri telah menjamin tentang PENGGANTIANNYA dalam Surat Saba 34: 39
Artinya :
Katakanlah, " Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaku diantara hamba-hamba-Nya." Dan apa saja yang kamu infakkan. Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang Terbaik.
Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata :
“Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ..” [2]
Imam Ar-Razi berkata, ‘Firman Allah : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya” adalah realisasi dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَا مِنْ يَوْمِ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اَللَّهُمِّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفَا، وَيَقُوْلُ الآْخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفَا
“Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya)….” [Al-Hadits].
Yang demikian itu karena Allah adalah Penguasa, Mahatinggi dan Mahakaya. Maka jika Dia berkata : “Nafkahkanlah dan Aku yang akan menggantinya”, maka itu sama dengan janji yang pasti Ia tepati.
Sebagaimana jika Dia berkata : ‘Lemparkalah barangmu ke dalam laut dan Aku menjaminnya”
Maka, barangsiapa berinfak berarti dia telah memenuhi syarat untuk mendapatkan ganti. Sebaliknya, siapa yang tidak berinfak maka hartanya akan lenyap dan dia tidak berhak mendapatkan ganti. Hartanya akan hilang tanpa diganti, artinya lenyap begitu saja.
- http://abd-holikulanwarislamic.blogspot.co.id
Friday, December 14, 2012
Arti Sebuah Nama
Baru enak-enaknya ngebakso di kedai"Bakso Orang Malang", siulan burung tanda ada sms masuk terdengar. Di cek ternyata dari bundanya Mbak Salma teman Nadia. Tadi saat ngambil rapor di sekolah sih memang sudah ketemu dan beliaunya sudah tanya apa arti kata Naila. Aku yang memang hobi banget pelupa....cuma bisa menginggat-inggat kalau nama zafira dan naila itu memliki arti yang sama yaitu keberuntunga. Seingatku sih waktu itu kita berdua kasih nama dengan niat supaya kedua anak gadis kami selalu hidup dalam keberuntungan.
cari googling dan dapat link ini. www.melindahospital.com. Jadi pingin tahu sebenarnya nama kedua anak kami itu benernya apa sih menurut kamus global. Moga-moga aja sesuai dengan harapan kami saat kami memberikan nama pada detik-detik setelah kelahirannya.
Saat asyik-asyiknya mencari dan ngomong sendiri kalau nama ini artinya ini dan nama itu artinya itu. Jadilah Nadia malah ikut nimbrung karena pingin tahu nama dia tuh artinya apa....kali dia mau meyakinkan kalau ibunya ini bener-bener ngasih nama yang bagus artinya.....:). Dan begitu tahu kalau arti salah satu namanya adalah Kesuksesan (sama dengan salah satu nama adiknya). jadilah dia tersenyum penuh kebahagian (mungkin dia merasa diperlakukan adil dalam doa ibunya)
Dan buat nginggat-nggingat supaya nggak lupa....kucantumkan di sini saja. Siapa tahu lain kali ada lagi yang menanyakan nama-nama ini :
artinya Teman Penghibur, Lemah Lembut, Pekerjaan Yang Sempurna, Gadis/Wanita
artinya Berkata-kata, Putri Bangsawan, Ungkapan
artinya Unik, Kesempurnaan dan Kebaikan
artinya suci, Pemberian Dari Tuhan, Baik Sekali
artinya Cahaya, Pelita, Lampu Minyak
artinya Awal, Harapan, Aktif dan Mudah Bergaul, Menebak Perasaan Orang Dengan Mudah, Praktis, Konservatif, Selalu Diberkati, Pengambil Keputusan, Berani, Keras Kepala, Seseorang Yang Menerima Panggilan Tuhan, Kebahagian, Kehormatan, Dibanggakan
artinya Kesuksesan
artinya Sehat, Rukun, Alamat Baik, Pemberian, Anugerah
Setyoartinya Kesetiaan
artinya Kemenangan, Kesuksesan
Semoga doa yang terucap dalam setiap penyebutan nama-nama penuh kebaikan ini dapat menjadikan kami sekeluarga menjadi manusia-manusia yang diharapkan dalam doa-doa tersebut. Amien.
Saturday, October 13, 2012
My Three Musketeers
“Ma….kepalaku kok pusing banget ya,” kalimat itu meluncur dari mulut
suamiku saat pulang kerja.“Astagfirullah…………kenapa pak,” tanyaku sedikit
galau tetapi berusaha belajar menahan diri untuk tidak bertanya yang
terlalu mendetil. Karena aku sendiri merasakan nggak enaknya ditanyain
gencar saat aku dalam kondisi menahan sakit. “Nggak tahu…………sejak tadi
sore di kantor sudah nyut-nyut”. Wah langsug periksa kepala dan
lehernya. Ehmmmmmmmmmmmm……hangat. “Ok…sudah ya pak….hari ini bapak
sudah nggak usah ribet menyelesaikan pekerjaan rumah yang terbengkalai
gara-gara aku KO,” tegasku. “Toh pekerjaan rumah emang nggak akan ada
selesainya. Entar sedikit demi sedikit aku akan bereskan. Saat fisikku
sudah mendukung” Lanjutku tanpa mau dibantah. “Lah tapi khan mama masih
lemes dan batuk gitu kok,” masku masih sedikit ngeyel. “Tenang aja
nantikan akan ada malaikat yang membantuku,” jawabku guyon menenangkan
dia
Akhirmya Mas mau juga menurut. Selepas mandi air hangat dan
sholat. Kami-pun harus meluncur mencari makan di pujasera karena hari
ini aku sama sekali tidak masak apa-apa. Dan mengharapkan mas yang lagi
sakit seperti itu untuk keluar sendiri mencari lauk tentu tidak
memungkinkan, sedangkan kalau aku sendiri yang keluar dalam keadaaan
masih lemas begini tentu bisa membahayakan bukan cuma diriku….bisa-bisa
aku meleng nabrak orang lain. Yah akhirnya berempat kami keluar, makan
di luar, beli obat dan pulang langsung pada bablas tidur karena nggak
usah ada episode beres-beres dapur lagi…..hehehe. Dan tengah malam
pertolongan Allah benar-benar datang, aku terbangun dengan tubuh yang
lebih segar dari hari-hari kemarin, walau batukku masih ngekek terdengar
nggak enak di kuping….hehehe. Energi-ku tiba-tiba muncul kembali
setelah satu setengah minggu lemes dempes seperti pejuang yang habis
kalah perang. Benar-benar tidak ada tenaga…..benar-benar hal yang tidak
pernah terjadi sebelumnya….walau aku sudah mengunakan cara mensuggesti
diri bahwa aku sehat dan aku harus sehat karena tugasku masih
banyak……Namun lemes dan batukku kelihatannya masih enggan meninggalkanku
(atau mungkin keyakinanku untuk sembuh kurang ya …….entahlah). Yang
jelas KO ini terlalu lama, dan bikin jengkel karena semua pekerjaan
rumah harus dilakukan dengan pelan-pelan untuk menyisakan energi dan
tugas-tugas lainnya-pun harus juga terkena imbasnya….ihik…ihik….ihik.
Tapi
sungguh dalam kesulitan begitu, alhamdulillah ada lahan bagi kami
berdua dan anak-anak untuk belajar menegaskan arti “BER-EMPATI”………….,
selama aku drop, my three musketeers benar-benar menjaga dan membantuku
dengan caranya sendiri-sendiri.

Mas
yang full semangat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang
biasanya menjadi hal yang biasanya kukerjakan. Berhubung aku tidak mampu
terlalu banyak beraktifitas fisik seperti masak, mencuci baju,
membersihkan rumah maka Mas dengan sigap akan mencarikan sarapan buat
kami setiap pagi, nanti siangnya mencarikan lauk lagi yang bisa masuk ke
tenggorokan dan perutku, dan malamnya sepulang kerja mencarikan lagi
lauk yang sejenis dengan tadi siang (berkuah dan lembut). Selepas itu
sepulang kerja Mas akan mulai sibuk membereskan rumah, dapur dan cucian
yang mulai menjulang. Dan setiap bunyi yang tak sengaja dia
hasilkan….benar-benar mengores ulu hatiku. Perasaan ini terasa
sedih…..duh kenapa badan ini begitu lemas bagi melayang….hingga suamiku
yang sudah lelah bekerja seharian masih harus menanggung beban pekerjaan
yang seharusnya bisa kulakukan. Kerjaku hanya bisa duduk dan sesekali
berdiri dengan lemas……….bahkan menerima beberapa tamupun kulakukan
dengan memaksakan diri. Dan kali ini suamiku benar-benar tegas tidak
memperbolehkan aku keluar rumah. Dimana sebelumnya nggak pernah hal
tersebut harus beliau lakukan. “Mama harus sehat dulu, kalau perlu nanti
aku yang mengerjakan PR-PR mama,” katanya tegas sambil mengoda-ku.
(maklum kadang masih coba memaksakan diri duduk di depan kompi-demi PR
yang serasa tak ada habis-habisnya…..hehehe). Duh…………kalau tidak
menginggat perjuangannya menjadi suster selama aku sakit, pingin rasanya
tubuh ini masih melompat ke sana-sini karena PR-ku masih
banyak……..ihik….ihik….ihik.
Nadia sulungku pun membantu dengan
menyelesaikan urusannya sendiri tanpa banyak bicara, dari menyetrika
baju-baju perginya, mengerjakan PR-PRnya tanpa mengangguku yang lagi KO,
memandikan adiknya setiap sore, mengajak adiknya bermain dan makan
bersamanya, nggak rewel sama sekali dengan menu makanan non minyak yang
lagi diterapkan, sebelum berangkat dan pulang sekolah bikinin mamanya
teh hangat krn kali dia miris mendengar batuk mamanya yang nggak
sembuh-sembuh….hehehe, siapin meja makan setiap kali kita akan
mengunakan. bahkan kalau diminta untuk membuat sesuatu ataupun melakukan
sesuatu dia jadi lebih sigap dari biasanya…..Thanks ya nduk.
Dan
Naila the second (hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 3…subhanallah
sudah bertambah besar anakku), membantu mamanya dengan berusaha menjadi
anak yang baik banget (menurutku). Jadi Selama hanya kami berdua yang di
rumah dari jam 8 sampai jam 4, jadi sekitar 8 jam sehari, maka dia akan
beraktifitas di sekitar tempat tidurku. Dari bermain computer, nonton
VCD, membaca (read : membaca dengan bahasaya sendiri sambil
terkagum-kagum pada gambar-gambar di dalam bukunya), beraktivitas
sendiri dengan mainan-mainannya (bisa bayangkan khan betapa
berantakannya kamarku setiap hari). Dan yang pasti kalau biasanya aku
menemani dia bobok siang maka kali ini dia yang menemani tidur siangku
setiap habis minum obat….hehehe. Dan kalau sudah bosan biasanya dia akan
keluar kamar dan menyanyi-nyanyi sendiri dengan suara kencangnya itu.
Walau kadang berisik banget namun tingkahnya tetaplah menghiburku. Dan
yang bikin aku jadi tersedak terharu adalah saat-saat kalau mamanya
sudah mulai kering kerongkongannya dan minta Naila untuk ambilkan air
putih (karena di meja sudah habis), maka tubuhnya yang mungil akan
terseok-seok membawa botol air minum ke dekatku, lalu mengambilkan gelas
dari lemari dapur untukku. Dia juga jadi yang paling sering
menginggatkan aku untuk meminum obatku dengan membawakan kantong obatku
sambil bergumam “mama sakit……..mama sakit…………..minum obat…….minum obat.”
Dan diapun menyodorkan obat-obat itu padaku. Duh nduk makasih banget
ya. !!!
Terima Kasih tak terhingga buat My Three
Musketers.......karena kehendak Allah SWT, lalu doa dari
saudara-tetangga-teman-teman (makasih banget) dan semangat perjuangan
kalian-lah my three musketeers, mama bisa berangsur-angsur sembuh. Dan
yang pasti kalian membuat mama merasa dicintai, dirawat dan dijaga dalam
proses kesembuhan mama.
Dan kini salah satu musketeer-ku jatuh
sakit juga. Dan aku bisa bayangkan kelelahan karena pekerjaan yang dia
lakukan selama merawatku. Kini waktuku untuk merawat-nya. Dan entah
keajaiban apa yang terjadi, begitu salah satu prajuritku jatuh sakit kok
energiku menjadi berangsur-angsur kembali. Aku harus bangkit karena
siapa lagi yang harus merawat mereka. Apalagi yang sakit ini Sang
Jenderal – Sang Perwira Tinggi. Jadi ya Sang Perwira Menengah-pun harus
maju jadi actingnya……hehehe. Siap Komandan !!!
Saya jadi teringat
diskusi dengan salah satu teman yang pernah membahas mengenai ayat dalam
surat Asy-Syarh 94: 5-6 …... Dan dia memakai konsep “Gelas Setengah
Kosong Setengah Isi?” dalam memahami ayat tersebut.
Fa inna ma’al ‘usri yusron. Inna ma’al usri yusron
(Asy-Syarh 94 : 5-6)
Artinya : Maka sesungguhnya, setelah (beserta, dibalik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan.
Jika
kita berusaha bisa melihat kesulitan dan kegagalan sebagai alat untuk
mempelajari hal-hal yang menuntun kita memperoleh kemudahan ,
keberhasilan, dan kesuksesan. Itulah arti dibalik kesulitan ada
kemudahan
- wallahu a’lam bissawab -
Jadi kepikiran :
Bayangkan
berapa potensi yang bisa kumiliki untuk meraih kemudahan, seandainya
aku memiliki kesanggupan untuk belajar dari setiap kesulitan yang aku
alami.
Saturday, June 2, 2012
Keutamaan Menunggu Waktu Sholat
Aku kaget mendengar suara keras yang keluar dari hp seorang gadis yang duduk di sebelahku, sama-sama mengantri untuk bisa bertemu para teller bank yang cantik....hehehe. Gadis berkerudung putih itu segera mematikan hp-nya dan bergerak berjalan ke arah lorong yang kutahu adalah lorong menuju ke toilet atau ke ruang urusan perkreditan di bank itu. Hemmm....jadi iseng menebak-nebak kemana si gadis itu pergi. Kalau ke ruang administrasi ngapain dia dari tadi nunggu di sini dan nggak nggak langsung masuk saja. Ah mungkin dia ke toilet.....kok ya pas dengan bunyi alarm di hp-nya. Jangan-jangan dia punya penyakit yang mengharuskan dia untuk masuk toilet berapa jam sekali.....walah imajinasiku kok melalang buana.
Tak lama kemudian, gadis itu-pun kembali dari lorong itu dan duduk lagi di sebelahku. Wajahnya tambah segar mungkin karena habis dibasuh. Wah nih gadis mungkin malah wudhu tadinya. Kutengok jam di hp-ku....lah belum masuk waktu dzuhur kok masih sekitar 15 menitan lagi. Mungkin gadis ini mirip dengan salah satu temanku yang selalu berusaha untuk tidak batal wudhunya seharian. Seandainya aku bisa menirunya.......Iseng masih kuikuti gerakan gadis itu. Dia lalu mengambil sebuah buku yang kulihat seperti Al Qur'an kecil lalu mulailah dia membuka Al Qur'annya dan seperti asyik membacanya dengan suara yang tak terdengar. Wah aku jadi malu sendiri. Bukankah memang lebih baik ya daripada bengong atau ngedumel menunggu antrian seperti ini, mending kita membaca buku atau Al-Qur'an. Jadi bisa nambah ilmu plus mendekatkan diri ke yg diatas (berharap bonus pahala dari-Nya sekalian).
Setelah analisa isengku tadi, Aku jadi mengambil kesimpulan yang berkaitan dengan aktifitas si gadis tadi. Dah langsung teringat sebuah hadits tentang . sebenarnya sih cuma garis besarnya yang teringat dan malah siapa perawinya aku nggak hafal. Dan pulang dari sana langsung buka-buka internet untuk mencarinya. Ini dia haditsnya :
Diriwayatkan dari Anas r.a : Rasulullah bersabda, "Orang-orang dianggap sedang mengerjakan shalat sepanjang mereka menunggu (untuk mengerjakan shalat)"
Semoga ini bisa jadi materi pembiasaan yang baik buat kami sekeluarga dan bisa disharing dalam kuliah menjelang subuh kami.
Monday, April 9, 2012
40 tahun
40 tahun
Dan ternyata sudah selama itu kutempuh perjalanan hidupku
mengarungi panjangnya lorong waktu
Kilatan masa kanak-kanak datang
Yang kukenang sebagai masa ceria dalam menikmati keprihatinan
Berganti kilatan masa remaja menghampiri
Yang kukenang sebagai masa bahagia di tengah pencarian jati diri
Dan berlanjut pada kilatan masa-masa muda berkarya
Yang kukenang sebagai masa indah di tengah upaya mengapai cita-cita
Dan kini aku sudah menempuh 12 th masa berkeluarga
Masa-masa penuh cinta di tengah upaya menjalankan peran sebagai istri, ibu dan wanita……
40 tahun
Dan aku memilih untuk mengenang segala hal yang membahagiakan
Dan menjadikan sisipan duka dan kesedihan sebagai penguat langkah ke depan
40 tahun
Dan ternyata aku masih memiliki mimpi
Yang membuat aku tak hanya sekedar hidup menunggu mati.
40 tahun….ya Allah
Engkau memberi diri kesempatan untuk menjalankan peran
Hanya doa yang mampu kupanjatkan
Ya Allah….pemilik segalanya
Kumohon ampuni dosa-dosa yang telah kugoreskan sepanjang perjalanan hidupku
Kumohon Engkau menjadikan sisa umurku sebagai sisa umur yang barokah
Sehingga Aku dapat kembali kepada-Mu dalam keadaan yang Qusnul Khotimah.
-dian anies-
Note :
terima kasih untuk semua doa tulus yang telah teman-teman dan sahabat-sahabat berikan dan doapun kupanjatkan untuk anda sekalian. semoga silaturahmi diantara kita tidak akan pernah lekang di telan zaman
Thursday, May 26, 2011
Satu Impian..........."Penghafal-Penghafal Al Qur'an"
Setiap selesai sholat maghrib biasanya Nadia akan meminta kami
menyimak hafalan surat Al-Qur'annya. Alhamdulillah semua itu dia lakukan
atas permintaannya sendiri. Keputusan kami untuk menyekolahkan dia ke
sekolah Islam sekembalinya kami dari Australia mampu sedikit demi
sedikit mengembalikan dia ke habitat yang kami inginkan yaitu
mendekatkan diri kepada ajaran-ajaran Islam. Salah satunya dengan mulai
mengenal Al Qur'an.
Mungkin banyak yang akan berkata cukup
terlambat di usianyanya yang ke 8 tahun [saat kami kembali] untuk
memulai lagi. Dan aku menyadari itu sebagai kesalahan
terbesar-ku....karena saat kami masih di OZ aku tidak serius mengarap
ladang amal ini. Aku hanya sedikit mengajari dia tentang qiroaty dan
juga tidak terlalu sering mengunjungi TPA di sana [TPA Kampung
Melayu-Tonsley dan TPA Payneham] hanya karena alasan lokasi yang cukup
jauh dari tempat tinggal kami waktu itu.
Tapi tekad kuat
dan ditunjang dengan kecerdasan lingusitik dan dukungan dari para
ustadzah-nya. Alhamdulillah kemampuan menghafal Al Qur'annya sudah mulai
muncul kuncupnya. InsyaAllah akan kita semai sama-sama nak karena
hafalan ibumu-pun masih jauh dari kata cukup......:(.
Tak
ingin menjadi "keledai" yang melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda untuk Naila the second yang
baru berusia 19 bulan. Akankah impianku menjadi
nyata......InsyaAllah.....
"Tidak Ada Yang Tidak mungkin.......Nikmati
proses pencarianmu dan serahkanlah Hasil-nya hanya pada Kebesaran
Allah"..... Bismillah !!!
Hari ini sebuah artikel menambah semangatku untuk mencari jawaban dari pencarianku : "Mengajarkan Al Qur'an pada balita"
Resource : http://learningathome.wordpress.com/2007/01/26/cerita-dari-sekolah-penghafal-quran-balita/
Cerita dari Sekolah Penghafal Qur’an Balita
Saya
tinggal di Iran dan punya anak usia empat tahun. Sejak tiga bulan lalu,
saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk,
wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan
buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.)
Anak-anak
balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh
langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan
gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak
disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak
harus baik.dll).
Kemudian, si guru ngajarin ayat
“wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23″ dengan menggunakan isyarat (kayak
isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”, isyaratnya bikin kumis dan
bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2
mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu
seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal
ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar
membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz ‘amma.
Suasana
kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai
pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis,
pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali
seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai
dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll.
Habis
baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun,
sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan
pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi
dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak
diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas,
bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .
Hasilnya?
Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air terlalu
besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya,
gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu
walaatushrifuu/ makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an) .
Waktu
dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat
tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan”
(Hud:114).
Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa
tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk
“Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab
ba’dhukum ba’dhaa”/Mujadalah: 12).
Anak saya (dan anak2
lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali
mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi
bagian dari diri mereka.
Mereka sama sekali tidak disuruh
pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31)! ,
mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya,
ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus
ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “lima taquuluu maa laa
taf’alun” (As-Shaf:2). dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma.!”
Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu
pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah tanya2 ke
pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah
untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran. Anak2 balita itu di
masa depan akan mempunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar
juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al
Quran) di Indonesia, rasanya maless.. banget (Kalo nggak dipaksa ortu,
nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang
banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah
Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari
Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah
yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada
Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka
baru bisa menyerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham,
pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita
bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke sekolah. Malah, buat
anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh,
kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).
Metode
pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh
seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada
usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz
Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba
sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia
akan menyebut, ayat ini..ini..ini. .), dan mampu bercakap-cakap dengan
bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan
menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa” (Al Baqarah:168) .
Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat,
mungkin usia 6 atau 7 tahun.
Keberhasilan anak2
Sayyid Thabathabai itu benar-benar fenomenal ( bahkan anak pertamanya
diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah
universitas di Inggris ), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran
untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak penghapal
Quran dihadiahi pergi haji bersama orang tuanya oleh negara dan setiap
tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al
Quran ( jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan
dari sekolah2 lain ). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini ( kata salah
seorang guru ) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang
ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang
Iran itu beda / lain daripada yg lain.
Saya pernah
diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti
itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat
gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan
ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah
akan membuntukan otak anak. Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran
ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan
melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke
sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana
ketika usia SD. Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman
atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila
dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).
Wassalam. Semoga Bermanfa’at.
Penuturan
Dina Sulaeman di Kafemuslimah. Bisa dilihat juga di
http://bundakirana.multiply.com/journal?&=&page_start=100 atau
bisa dihubungi di bundakirana@yahoo.com
————————–
Nah, orang
tua mana yang tidak kepingin? Merupakan kebahagian terbesar dan tidak
terkira jika punya anak-anak penghapal Qur’an. Terlepas dari penemu
metode ini yang terkenal sebagai seorang ulama mazhab Syi’ah, saya
tertarik utamanya dengan metode pengajarannya. Kita bisa mencoba kepada
anak dengan menggunakan tafsir yang yang menjadi pegangan kita. Mungkin
memang harus bongkar pasang metode sampai menemukan metode yang sesuai
dengan cara anak belajar.
Bagaimanapun, cerita ini sungguh menggugah kesadaran saya. Bahwa kita bisa mengajarkan Al Qur’an dengan lebih berkesan.
UPDATE —————
Ternyata
metode JQ ini sudah ada yang menerapkan yaitu di Rumah Qurani di
Bandung. Penjelasan mengenai metodenya (walaupun belum lengkap) bisa
dilihat di Rumah Pohon. Ada contoh video pengajaran kitab satu dari
Kirana anaknya Mbak Dina yang cerita di atas, bisa didownload. Ada pula
contoh komik dari ayat-ayat yang diajarkan versi Rumah Qurani (RQ), ada
contoh lagu, dan ada contoh VCD-nya. Sayang belum dijual bebas, kita
harus pesan ke RQ dan yang tertarik bisa tanya-tanya soal pelatihan
metode ini.
Monday, March 28, 2011
Butir-Butir Hikmah Buya Hamka
Semalam badanku letih namun mata ini tidak mau juga dipejamkan. Entah
kegelisahan apalagi yang masih mengayuti pikiranku. Akhirnya tumpukan
kardus-kardus yang berisi buku dan kertas-kertas file menjadi sasaran
kegiatan. Setumpuk kertas dalam map oranye itu menarik perhatianku dan
ternyata isinya adalah sekumpulan file2 e-mail yang dulu sengaja
kusimpan agar dapat kubaca dan kubaca lagi. Kumpulan tulisan pembangkit
semangat jika hati mulai down lagi.
Form : Fauzi Ade
Sent : Wednesday, October 13, 1999
To : ****(KPC)
Subject : Butir-Butir Hikmah Buya Hamka
"Di dalam menempuh jalan hidup janganlah mencoba menjarak dari Tuhan sebab kendali yang sebenarnya terpegang di tanganNya.
Betapapun kita memegang kemudi bahtera menuju pelabuhan yang dicita-cita, namun yang menentukan arah angin ialah Dia.
Sebelum sampai ketempat perhentian, janganlah lekas puas dan gembira jika nasib selamat, tetapi bersyukurlah !!!
Dan
jika angin ribut mengguncangkang bahtera sehingga seakan-akan tiang
akan patah, janganlah berguncang jiwamu sebab sesudah angin ribut itu
alam akan terang kembali, sebab itu hendaklah sabar.
Imbangan pelajaran hidup adalah antara SYUKUR dan SABAR.
Perhitungan laba dan rugi bukanlah di tengah pelayaran, tetapi di tempat perhentian terekhir."
(HAMKA)
Tanpa
sadar setitik air mata menetes.......Astagfirullah ampuni dosaku ya
Allah. Ampuni dosaku karena mungkin aku terlalu sombong untuk
mendekatkan jarakku pada-Mu ya ROBB Sang PENGUASA. Ampuni aku karena
mungkin aku belum mampu BERSYUKUR dan BERSABAR dalam menjalani
kehidupanku. Mungkin mudah untuk TERUCAP di bibirku namun belum mewujud
dalam GERAK LAKU AKTIVITAS-ku. Iyyakana'nudu wa Iyyakasta'in [Hanya
kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan]....Aku mohon pertolong-Mu ya Allah yang Maha Pengasih dan
Penyayang.....Gerakkanlah jiwaku dan bukalah mata hatiku untuk selalu
SYUKUR dan SABAR dalam arti yang sebenar-benarnya.
Salatiga, Senin 28 Maret 2011
Thursday, May 27, 2010
Disiplin Buat Nulis....Sulit Amat Sih!!!!
Bingung........................mana dulu yang mau dikerjakan. Jadi Full Time Mother selama hampir satu tahun ini [aku berhenti kerja terakhir Mei 2009 karena hamil] masih juga belum bisa membagi waktu dengan smooth. Perasaan lebih sistematis ketika aku kerja dengan angka dan data-data karena aku bisa memprediksikan berapa waktu yang akan habis untuk menyelesaikannya. Sedangkan ini....rasanya imposibble. Bayi Naila khan nggak pernah bisa diprediksi mood-nya. Kadang pagi ini jadwalnya gampang diikuti lain hari sedikit gambek dan buyarlah apa yang sudah terjadwal di otak malam sebelumnya.
Seperti saat ini sambil nulis aku masih nenenin dia. Yah kesempatan untuk berlatih menulis nggak sebanyak dulu waktunya. Hanya bisa nyaman dilakukan kalau Naila sudah bobok, yang artinya sedikit waktu di siang hari [Naila boboknya cepet bangun kalau nggak ditemanin] atau sebenarnya bisa puas di malam hari tapi terganjal mood yang biasanya sudah turun karena ngantuk. Di malam hari waktu nulis barus bisa dilakukan lewat dari jam 8 malam jam Naila tidur di malam hari.Sedikit kebebasan yang bisa kumanfaatkan itu biasanya kugunakan untuk ngecek pekerjaan rumah yang belum terselesaikan hari ini, bantu Nadia kakaknya untuk mengerjakan PR dan jadi tutor dia untuk membahas soal-soal mata pelajarannya sambil menemani nonton TV suami yang biasanya berunjung pada ngobrol ngalor ngidul. Jadi menjelang jam 11 malam, aku sendiri biasanya sudah kelelahan dan pinginnya langsung ikut bobok juga dengan mereka. Akibatnya ya jadi kurang continue nulisnya.....
Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadikan apapun sebagai alasan untuk mengurungkan niat-niat yang kuanggap baik. Nah salah satunya adalah menulis....menulis dan menulis. Karena aku tahu sebilah pisau tidak akan tajam kalau jarang diasah. Begitu juga dengan menulis.
Tantangan lain dalam menulis tentu saja mencari waktu untuk membaca. Karena menulis tanpa rajin membaca katanya sama aja bo'ong. Sudah hampir 1 tahunan ini aku belum lagi membeli sebiji buku-pun....xixixi. Padahal dulu tidak ada satu bulan-pun yang terlewat tanpa pergi ke Toko Buku dan membeli paling tidak sebuah buku. Kini......disamping internet juga menyediakan begitu banyak informasi yang dapat dibaca setiap hari [gampang lagi access-nya nggak perlu melototin deretan buku2 di raknya], juga karena budget yang makin very tight [karena gue udah nggak kerja lagi bro....harus pinter2 ngatur duit]. Jadi inget OZ dengan Free Library-nya. Tapi kondisi seperti ini membuat aku makin bisa mengekporasi apa yang sudah kami miliki. Sayang juga khan langganan internet tapi malah dianggurin. Ya surfing sana sini buat nambah ilmu. Jadi keep in mind...............
Seperti saat ini sambil nulis aku masih nenenin dia. Yah kesempatan untuk berlatih menulis nggak sebanyak dulu waktunya. Hanya bisa nyaman dilakukan kalau Naila sudah bobok, yang artinya sedikit waktu di siang hari [Naila boboknya cepet bangun kalau nggak ditemanin] atau sebenarnya bisa puas di malam hari tapi terganjal mood yang biasanya sudah turun karena ngantuk. Di malam hari waktu nulis barus bisa dilakukan lewat dari jam 8 malam jam Naila tidur di malam hari.Sedikit kebebasan yang bisa kumanfaatkan itu biasanya kugunakan untuk ngecek pekerjaan rumah yang belum terselesaikan hari ini, bantu Nadia kakaknya untuk mengerjakan PR dan jadi tutor dia untuk membahas soal-soal mata pelajarannya sambil menemani nonton TV suami yang biasanya berunjung pada ngobrol ngalor ngidul. Jadi menjelang jam 11 malam, aku sendiri biasanya sudah kelelahan dan pinginnya langsung ikut bobok juga dengan mereka. Akibatnya ya jadi kurang continue nulisnya.....
Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadikan apapun sebagai alasan untuk mengurungkan niat-niat yang kuanggap baik. Nah salah satunya adalah menulis....menulis dan menulis. Karena aku tahu sebilah pisau tidak akan tajam kalau jarang diasah. Begitu juga dengan menulis.
Tantangan lain dalam menulis tentu saja mencari waktu untuk membaca. Karena menulis tanpa rajin membaca katanya sama aja bo'ong. Sudah hampir 1 tahunan ini aku belum lagi membeli sebiji buku-pun....xixixi. Padahal dulu tidak ada satu bulan-pun yang terlewat tanpa pergi ke Toko Buku dan membeli paling tidak sebuah buku. Kini......disamping internet juga menyediakan begitu banyak informasi yang dapat dibaca setiap hari [gampang lagi access-nya nggak perlu melototin deretan buku2 di raknya], juga karena budget yang makin very tight [karena gue udah nggak kerja lagi bro....harus pinter2 ngatur duit]. Jadi inget OZ dengan Free Library-nya. Tapi kondisi seperti ini membuat aku makin bisa mengekporasi apa yang sudah kami miliki. Sayang juga khan langganan internet tapi malah dianggurin. Ya surfing sana sini buat nambah ilmu. Jadi keep in mind...............
"TIDAK BOLEH ADA KATA MENYERAH DALAM HIDUP, SETIAP MASALAH PASTI ADA SOLUSINYA"
Thursday, May 20, 2010
Rasa Syukur
Benarkah rasa syukur lebih mudah terlontar dalam bentuk ucapan daripada termanifestasi dalam bentuk sikap dan perbuatan?
Sayang-nya diri ini ternyata masih sering termasuk dalam daftar manusia yang masih menganggap sebuah kelaziman untuk menggangap kesulitan dan kesedihan sebagai sesuatu hal yang negatif dan meresponnya dengan segala keluh kesah, depresi dan keputusaan. Jadi malu sendiri.........malu.....malu.
Dan yang lebih mengherankan lagi jika Allah memberi kebahagian dan kemudahan maka masih sering kurasakan seakan-akan aku memang berhak mendapatkannya karena usaha kebaikan yang telah kulakukan.....waoh PD habis. Dan jarang terlintas bahwa kemudahan dan kebahagian itupun, juga merupakan bagian dari training untuk menuju keempurnaan sebagai manusia.
Padahal jelas-jelas Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita bagaimana harusnya kita menyikapi apapun yang menimpa diri kita dengan sikap meneguhkan keyakinan bahwa Allah SWT lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi hambanya.
Sayang-nya diri ini ternyata masih sering termasuk dalam daftar manusia yang masih menganggap sebuah kelaziman untuk menggangap kesulitan dan kesedihan sebagai sesuatu hal yang negatif dan meresponnya dengan segala keluh kesah, depresi dan keputusaan. Jadi malu sendiri.........malu.....malu.
Dan yang lebih mengherankan lagi jika Allah memberi kebahagian dan kemudahan maka masih sering kurasakan seakan-akan aku memang berhak mendapatkannya karena usaha kebaikan yang telah kulakukan.....waoh PD habis. Dan jarang terlintas bahwa kemudahan dan kebahagian itupun, juga merupakan bagian dari training untuk menuju keempurnaan sebagai manusia.
Padahal jelas-jelas Allah SWT sudah mengajarkan kepada kita bagaimana harusnya kita menyikapi apapun yang menimpa diri kita dengan sikap meneguhkan keyakinan bahwa Allah SWT lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi hambanya.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
[Q.S Al Baqarah 2 : 216].
[Q.S Al Baqarah 2 : 216].
Thursday, June 4, 2009
Mencoba Memaknai Bekerja adalah Ibadah
Aku merenung sesaat mencoba mengevalusai makna hidup bagiku sampai saat ini. Dan aku tiba-tiba teringat salah satu artikel yang membuat kesan di hatiku. Kucari-cari di file yang masih tersimpan. Alhamdulillah ternyata masih ada.....dan aku ingin mempostingkan artikel ini sebagai penginggat dan penambah motivasi-ku dalam mencari keridoan-MuMencari Tuhan Di Penggorengan Pisang Raja
by Cahyo Pramono (Pengamat & Praktisi Manajemen)
Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil saya bergerak ke warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apa pun.
Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya. Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilakan mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya Wak Diro. Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro.
Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari dia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Yogyakarta, walau ia hanya bisa sampai semester lima.
Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi Pegawai Negeri? Tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menganggukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu. Fikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini di depan mata saya, si isteri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng di tempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti. Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi. Kata Wak Diro, isterinya harus mengantar beberapa kertas tisu ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.
Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya: "Mas, sampean apa percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya. Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan dalam delapan tahun terakhir dia tidak lagi mencari uang semata, tapi mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah." Seperti pengakuan kebanyakan manusia, dia meyakini hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apa pun. "Mas, saya bukan jualan pisang goreng lho," aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik".
Wow.. fikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras? "Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghribnya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Isya," terang Wak Diro. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya. "Uang bagi saya, hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah". Kini saya faham, mengapa dia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.
Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang-malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Dia tidak sekadar menjual jajanan, dia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan ikhlas.
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya mas, saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah," aku Wak Diro.
"Apa pun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kebo sekali pun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu".
Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?"
Dengan ringan Wak Diro menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti khawatir?"
Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, dia berujar: "Saya kan cuma kawulo, apakah pantes kalau saya ikut campur tangan ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"
Catatan Kaki :
Membaca artikel ini dengan bait-bait kalimat yang menusuk ulu hatiku.
"Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah."
"Mas, saya bukan jualan pisang goreng lho. Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik. Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghribnya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Isya,"
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya mas, saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah,"
membuat-ku makin tercenung dan tak terasa air mata haru meleleh. Perlahan-lahan lintasan berbagai peristiwa muncul...
Dari setiap jenis pekerjaan yang kulakukan selama ini jujur dari hati nurani-ku orientasi utama adalah untuk mendapatkan penghasilan mencukupi kebutuhan keluarga. Walaupun selalu kutanamkan dalam diriku bahwa Bekerja adalah Ibadah, namun masih terasa ada ke-egoan-ku yang tumbuh saat memaknainya. Mencoba bertanya dalam diri....Benarkah hasil kerja yang kulakukan tidak hanya berorientasi untuk memakmurkan diriku sendiri & memakmurkan keluargaku dengan rezeki yang halal? Benarkah zakat yang kukeluar-kan dari setiap penghasilan-ku bukan hanya kumaknai menuntaskan kewajiban-ku terhadap orang lain?
Tertatih-tatih lagi kucoba menyadarkan diriku untuk memperbaiki niat dalam setiap perbuatan-ku. Lebih Memaknai "Bekerja adalah Ibadah...Not only hablum minallah tapi juga hablum minannas".
Bantu aku ya Allah untuk lebih memaknai hidupku
Selalu sadarkan aku ya Allah akan amalan-amalan sederhana namun berkenan di hati-Mu
Yang dapat menjadi penolong-ku di saat aku menghadap-Mu
Selalu sadarkan aku ya Allah akan amalan-amalan sederhana namun berkenan di hati-Mu
Yang dapat menjadi penolong-ku di saat aku menghadap-Mu
Tuesday, May 5, 2009
Sahabat Wanita
"Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia" [Alessandro Manzoni]
Sebuah keberuntungan apabila dalam hidup kita, kita dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang selalu mensupport kita dalam suka dan duka. Let me thingking again about that............
Bayangan masa SD-ku kabur saat ini....puzzle yang kucoba untuk susun masih terserak tak beraturan. Jumping aja ke masa-masa SMP.....
SMP....saat usiaku menginjak ABG. Aku, Yuni dan Kunti...hanyalah anak-anak yang lebih fokus untuk mencapai hasil tertinggi pada pelajaran daripada memikirkan seorang cowok idaman. Kami jelas tidak pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai cowok. Yang ada di otak kami hanyalah pelajaran...pelajaran dan pelajaran. Saat SMP pulalah aku menjadi dekat dengan 2 sahabat cowok-ku. Indra dan Tony. Mereka berdua banyak membantu-ku terutama dalam menghadapi pelajaran yang paling tidak kumengerti yaitu Matematika dan Fisika. Padahal awalnya aku sangat sebel banget terutama sama Tony yang selalu iseng cari perkara dengan-ku dan Yuni....:)).
Memasuki usia SMA...aku memiliki teman-teman dekat yaitu Dina dan Nora.....dua gadis yang akhirnya berbalik membenci-ku karena aku dianggap menodai persahabatan kami dengan membuka rahasia kami yang waktu itu kuanggap sebagai upayaku untuk menolong mereka....:)). Salah satu pelajaran yang tertancap di benak-ku adalah bahwa setiap orang dapat memiliki sudut padang yang berbeda terhadap suatu masalah.....aku terlalu lugu untuk berperang melawan hal-hal yang bersifat psikologis.......dan aku kalah saat itu. I am the loser.
Masa kuliah-pun kujalani dengan memiliki dua sahabat yang berbeda karakter....Ari dan Peni. Kalau Ari meledak-ledak maka Peni menjadi Penenang diantara kita. Beruntunglah aku bahwa kami sampai saat ini masih sering melakukan kontak karena Peni aktif di dunia maya sedangkan Ari malah menjadi tetangga kakakku sendiri.....:))
Memasuki masa-masa bekerja, kembali aku memiliki sahabat-sahabat yang jujur mengatakan kebenaran padaku.....Mbak Wiwin dan Mbak Petris (teman-teman sebarak)....dua-duanya terpaut jauh usia denganku, namun entah mengapa aku merasa cocok saja dengan mereka. Hingga akhirnya kami mulai disibukan oleh urusan rumah tangga masing-masing dan aku mulai memiliki sahabat yang lain lagi yaitu Mbak Yulia dan Mbak Dewi.....kami menjadi semakin dekat karena kegiatan kami yang sama yaitu mencoba mendalami agama lebih dalam....
Selepas itu aku mulai mengembara sendiri bersahabat dengan satu-satunya orang yang palig dekat denganku yaitu suami-ku. Dia menjadi penginggat-ku kalau aku melakukan kesalahan.....dan kalau aku mengeluh mengenai rasa kehilangan yang sangat akan sahabat-sahabatku. Dia selalu mejawab...."Tidak cukupkah aku menjadi pengganti sahabat-sahabat-mu?".....Duh kalau udah gini susah njelasinnya.....tetap ada yang berbeda my dear.....walaupun aku selalu berusaha terbuka padamu.....tetapi selalu mengertikah dirimu akan persoalan-persoalan hati wanita.......:)). Aku masih tetap membutuhkan sahabat-sahabat wanitaku tanpa berusaha mengecilkan arti dirimu......:-D
Sebuah kata-kata yang menghiburku dikala aku belum lagi menemukan seorang Sahabat Wanita-ku.
Bayangan masa SD-ku kabur saat ini....puzzle yang kucoba untuk susun masih terserak tak beraturan. Jumping aja ke masa-masa SMP.....
SMP....saat usiaku menginjak ABG. Aku, Yuni dan Kunti...hanyalah anak-anak yang lebih fokus untuk mencapai hasil tertinggi pada pelajaran daripada memikirkan seorang cowok idaman. Kami jelas tidak pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai cowok. Yang ada di otak kami hanyalah pelajaran...pelajaran dan pelajaran. Saat SMP pulalah aku menjadi dekat dengan 2 sahabat cowok-ku. Indra dan Tony. Mereka berdua banyak membantu-ku terutama dalam menghadapi pelajaran yang paling tidak kumengerti yaitu Matematika dan Fisika. Padahal awalnya aku sangat sebel banget terutama sama Tony yang selalu iseng cari perkara dengan-ku dan Yuni....:)).
Memasuki usia SMA...aku memiliki teman-teman dekat yaitu Dina dan Nora.....dua gadis yang akhirnya berbalik membenci-ku karena aku dianggap menodai persahabatan kami dengan membuka rahasia kami yang waktu itu kuanggap sebagai upayaku untuk menolong mereka....:)). Salah satu pelajaran yang tertancap di benak-ku adalah bahwa setiap orang dapat memiliki sudut padang yang berbeda terhadap suatu masalah.....aku terlalu lugu untuk berperang melawan hal-hal yang bersifat psikologis.......dan aku kalah saat itu. I am the loser.
Masa kuliah-pun kujalani dengan memiliki dua sahabat yang berbeda karakter....Ari dan Peni. Kalau Ari meledak-ledak maka Peni menjadi Penenang diantara kita. Beruntunglah aku bahwa kami sampai saat ini masih sering melakukan kontak karena Peni aktif di dunia maya sedangkan Ari malah menjadi tetangga kakakku sendiri.....:))
Memasuki masa-masa bekerja, kembali aku memiliki sahabat-sahabat yang jujur mengatakan kebenaran padaku.....Mbak Wiwin dan Mbak Petris (teman-teman sebarak)....dua-duanya terpaut jauh usia denganku, namun entah mengapa aku merasa cocok saja dengan mereka. Hingga akhirnya kami mulai disibukan oleh urusan rumah tangga masing-masing dan aku mulai memiliki sahabat yang lain lagi yaitu Mbak Yulia dan Mbak Dewi.....kami menjadi semakin dekat karena kegiatan kami yang sama yaitu mencoba mendalami agama lebih dalam....
Selepas itu aku mulai mengembara sendiri bersahabat dengan satu-satunya orang yang palig dekat denganku yaitu suami-ku. Dia menjadi penginggat-ku kalau aku melakukan kesalahan.....dan kalau aku mengeluh mengenai rasa kehilangan yang sangat akan sahabat-sahabatku. Dia selalu mejawab...."Tidak cukupkah aku menjadi pengganti sahabat-sahabat-mu?".....Duh kalau udah gini susah njelasinnya.....tetap ada yang berbeda my dear.....walaupun aku selalu berusaha terbuka padamu.....tetapi selalu mengertikah dirimu akan persoalan-persoalan hati wanita.......:)). Aku masih tetap membutuhkan sahabat-sahabat wanitaku tanpa berusaha mengecilkan arti dirimu......:-D
Sebuah kata-kata yang menghiburku dikala aku belum lagi menemukan seorang Sahabat Wanita-ku.
"Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu"
Wednesday, April 29, 2009
Ijinkan Aku Lebih Berbakti Padanya
Dua hari ini aku mengunjungi 2 blog penulis2 Islam yang menginspirasiku. Siapa lagi kalau bukan Mbak Helvy Tiana Rosa dan adiknya Asma Nadia. Dari kemarin sore sampai malam menjelang bahkan sepagian ini aku membuka catatan harian mereka. Nggak terasa air mata mengalir terus sampai aku bangun tidur di pagi ini dengan mata yang sembab.
Dulu aku mengira Asma Nadia adalah nama samaran dari Mbak Helvy...soalnya wajah keduanya menyimpan guratan khas yang sama. Eh ternyata mereka berdua adalah kakak beradik. Pantes aja. Aku mengenal nama-nama mereka tetapi belum semua buku-bukunya....sayang bukan. Padahal Mbak Helvy sudah menghasilkan buku sekitar 44-an, sedangkan Mbak Asma sekitar 30-an. 2 Novel yang kuingat pernah kubaca adalah "Derai Sunyi" by Asma Nadia [mendapat penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara-MASTERA] dan "Rembulan di Mata Ibu"by Asma Nadia juga. Yang lainnya kayaknya belon....entar kalau sudah di Indo kali ya mulai searching lagi.
Dalam bahasa tuturnya Mbak Helvy memberi kesadaran tentang bagaimana sudut pandang seorang anak melihat sosok ibunya. Mereka berdua menginggat ibunya sebagai sosok yang mudah menolong orang lain dan selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik buat anak-anaknya walaupun itu diwujudkan hanya dengan memenuhi janji kepada anak-anaknya untuk membawakan satu buah buku setiap harinya...Tapi bagi anak-anaknya itulah harta yang paling berharga di tengah deraan kemiskinan yang masih menghimpit mereka. Sosok Ibu bagi mereka telah menjelma menjadi seorang pahlawan yang telah membantu mereka mengepakkan sayap kupu-kupu mungil mereka untuk terbang menjelajah dunia. Dan mereka mengingat hidup penuh kesederhaan mereka dengan cara yang indah.
Terkilas dalam pikiran-ku "ibu seperti apakah aku yang akan diingat oleh Nadia sepanjang sisa hidupnya". Kesadaran itu menyentakku hingga kemudian aku mencoba mengingat bagaimana aku sendiri menginggat ibu yang telah melahirkan-ku.......
Dalam ingatan masa kecil-ku Ibu-ku adalah sosok perempuan yang membaktikan hidupnya bagi suami dan anak-anaknya. Dibalik kelemahan fisik-nya ibuku memiliki ketegaran hati dan ketaatan yang tinggi.
Ibu adalah seorang guru agama yang sangat mendedikasikan hidupnya bagi sekolah-sekolah dimana beliau mengabdi. Beliau dikenal tidak banyak bicara tetapi memiliki perasaan yang teramat sangat peka. Beliau pernah mengabdikan dirinya menjadi guru agama di SMPN 1 Surabaya dan SMPN 3 Surabaya. Sebagai seorang guru agama tentu saja beliau sangat mengharapkan anak-anaknya bisa menjadi contoh yang baik dari pengajaran yang beliau berikan pada murid-muridnya......Tetapi dengan 7 orang putra-putri tentu saja hal itu tidak mudah. 7 kharakter memberikan respon yang berbeda terhadap keinginan bunda-ku. Kebahagian dan kesedihan tentu saja mengiringi perjuangan ibu untuk menjadikan kami manusia-manusia yang sholeh.
Sebagai perempuan jawa, ibu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya jawa yang sangat kental dengan tata aturan pergaulan. Ibu sangat mengabdi kepada bapak. Dalam kesibukan-nya mengajar, membuat soal-soal ulangan bahkan memeriksa kertas2 ulangan yang bertumpuk2 serta mengisi raport2 murid-muridnya....ibu masih sangat telaten mengurus bapak dan anak-anaknya. Secangkir kopi selalu terhidang bagi bapak di sore hari, belum lagi makanan yang selalu beliau usahakan siap di meja makan di saat-saat jam makan...serta urusan domestik lainnya. Walau sewaktu kecil ibu mendapatkan banyak bantuan dari saudara-saudara ibu yang ikut tinggal bersama kami namun itu tidak mengurangi arti perjuangan ibu dalam membesarkan kami.
Kini ibuku sudah mulai melemah daya ingatnya. Ingatan-ingatan masa lalunya kadang datang dan pergi. Kini beliau menjadi lebih membutuhkan perhatian kami namun sayang saat aku terakhir tinggal 2 bulan di sana, aku belum mampu memberikan perhatian yang maksimal kepadanya. Bahkan sering aku menjadi tidak mengerti akan jalan pikiran ibuku yang mulai sering bingung.
Aku sangat sedih melihat perkembangan ibu yang makin menutup diri dari bersosialisasi...aku yakin hal itu hanya karena beliau mulai semakin bingung mengingat orang-orang yang berada si sekitarnya....dulu ibuku sangat aktif mendatangi pengajian, menjadi panitia-panitia hari keagamaan baik di kantor, di kampung maupun di keluarga walau ibuku terkesan pendiam.
Ibu kini bahkan mulai lupa bagaimana menghidangkan hidangan yang nikmat walau dibuat dari bahan yang sederhana.....padahal dulu ibuku sangat pintar memasak. Bahkan aku paling senang makan dari piring sisa makan ibu....entahlah apa yang dipegang ibu menjadi sesuatu yang nikmat saat itu. Kini ibu hanya ingat bahwa beliau harus membeli Tahu setiap Abang sayuran datang...hingga persediaan tahu di rumah menumpuk dan nggak tahu mau diapakan. Bahkan setiap hari yang beliau ingat adalah mengupas bawang merah...mengirisnya tipis-tipis....dan kemudian mengorengnya....sampai persediaan bawang goreng kita lebih dari stock mingguan.....:-D. Oh ibu hal-hal itu kemudian menjadi perdebatan panjang diantara ibu dan aku serta adikku hingga aku tahu itu melukai hatimu....seharusnya kami biarkan ibu menjalani ritme yang ibu masih mampu ingat dan menikmat-nya. Apalah arti tahu dan bawang yang tak termakan dengan hatimu yang bahagia.....Maafkan kami ibu.
Melemahnya daya ingat ibu membuat ibu juga menjadi penakut....padahal dulu ibu kemana-mana pergi sendiri dengan sepeda motornya untuk mengurus urusan sekolah dan ketujuh anaknya....kini untuk pergi ke toko terdekat saja ibu minta diantar oleh bapak. Bahkan ibu menjadi takut apabila ditinggal sendiri di rumah besar kami....selalu harus ada yang menemani atau beliau lebih baik ikut kemana-pun bapak pergi. Aku masih ingat bahkan ibu minta ditemani tidur ketika ditinggal sendiri oleh bapak tugas ke luar kota.....sesuatu yang aku sesali hingga saat ini karena aku tidak memenuhi permintaan beliau hanya karena aku harus juga menemani Nadia anakku tidur.....Maafkan aku ibu.
Aku juga memilih untuk lebih banyak diam selama 2 bulan tinggal-ku di sana karena aku sendiri juga bingung menghadapi ibu yang sangat sensitif terhadap apapun yang kami katakan dan perbuat....dan itu juga membuat hatinya terluka....Maafkan aku ibu.
Kini dalam setiap sujudku kuminta padamu Ya Allah ijinkan aku punya waktu untuk lebih membaktikan diri-ku pada ibuku.....dan mencoba memahaminya. Amien.
Dulu aku mengira Asma Nadia adalah nama samaran dari Mbak Helvy...soalnya wajah keduanya menyimpan guratan khas yang sama. Eh ternyata mereka berdua adalah kakak beradik. Pantes aja. Aku mengenal nama-nama mereka tetapi belum semua buku-bukunya....sayang bukan. Padahal Mbak Helvy sudah menghasilkan buku sekitar 44-an, sedangkan Mbak Asma sekitar 30-an. 2 Novel yang kuingat pernah kubaca adalah "Derai Sunyi" by Asma Nadia [mendapat penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara-MASTERA] dan "Rembulan di Mata Ibu"by Asma Nadia juga. Yang lainnya kayaknya belon....entar kalau sudah di Indo kali ya mulai searching lagi.
Dalam bahasa tuturnya Mbak Helvy memberi kesadaran tentang bagaimana sudut pandang seorang anak melihat sosok ibunya. Mereka berdua menginggat ibunya sebagai sosok yang mudah menolong orang lain dan selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik buat anak-anaknya walaupun itu diwujudkan hanya dengan memenuhi janji kepada anak-anaknya untuk membawakan satu buah buku setiap harinya...Tapi bagi anak-anaknya itulah harta yang paling berharga di tengah deraan kemiskinan yang masih menghimpit mereka. Sosok Ibu bagi mereka telah menjelma menjadi seorang pahlawan yang telah membantu mereka mengepakkan sayap kupu-kupu mungil mereka untuk terbang menjelajah dunia. Dan mereka mengingat hidup penuh kesederhaan mereka dengan cara yang indah.
Terkilas dalam pikiran-ku "ibu seperti apakah aku yang akan diingat oleh Nadia sepanjang sisa hidupnya". Kesadaran itu menyentakku hingga kemudian aku mencoba mengingat bagaimana aku sendiri menginggat ibu yang telah melahirkan-ku.......
Dalam ingatan masa kecil-ku Ibu-ku adalah sosok perempuan yang membaktikan hidupnya bagi suami dan anak-anaknya. Dibalik kelemahan fisik-nya ibuku memiliki ketegaran hati dan ketaatan yang tinggi.
Ibu adalah seorang guru agama yang sangat mendedikasikan hidupnya bagi sekolah-sekolah dimana beliau mengabdi. Beliau dikenal tidak banyak bicara tetapi memiliki perasaan yang teramat sangat peka. Beliau pernah mengabdikan dirinya menjadi guru agama di SMPN 1 Surabaya dan SMPN 3 Surabaya. Sebagai seorang guru agama tentu saja beliau sangat mengharapkan anak-anaknya bisa menjadi contoh yang baik dari pengajaran yang beliau berikan pada murid-muridnya......Tetapi dengan 7 orang putra-putri tentu saja hal itu tidak mudah. 7 kharakter memberikan respon yang berbeda terhadap keinginan bunda-ku. Kebahagian dan kesedihan tentu saja mengiringi perjuangan ibu untuk menjadikan kami manusia-manusia yang sholeh.
Sebagai perempuan jawa, ibu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya jawa yang sangat kental dengan tata aturan pergaulan. Ibu sangat mengabdi kepada bapak. Dalam kesibukan-nya mengajar, membuat soal-soal ulangan bahkan memeriksa kertas2 ulangan yang bertumpuk2 serta mengisi raport2 murid-muridnya....ibu masih sangat telaten mengurus bapak dan anak-anaknya. Secangkir kopi selalu terhidang bagi bapak di sore hari, belum lagi makanan yang selalu beliau usahakan siap di meja makan di saat-saat jam makan...serta urusan domestik lainnya. Walau sewaktu kecil ibu mendapatkan banyak bantuan dari saudara-saudara ibu yang ikut tinggal bersama kami namun itu tidak mengurangi arti perjuangan ibu dalam membesarkan kami.
Kini ibuku sudah mulai melemah daya ingatnya. Ingatan-ingatan masa lalunya kadang datang dan pergi. Kini beliau menjadi lebih membutuhkan perhatian kami namun sayang saat aku terakhir tinggal 2 bulan di sana, aku belum mampu memberikan perhatian yang maksimal kepadanya. Bahkan sering aku menjadi tidak mengerti akan jalan pikiran ibuku yang mulai sering bingung.
Aku sangat sedih melihat perkembangan ibu yang makin menutup diri dari bersosialisasi...aku yakin hal itu hanya karena beliau mulai semakin bingung mengingat orang-orang yang berada si sekitarnya....dulu ibuku sangat aktif mendatangi pengajian, menjadi panitia-panitia hari keagamaan baik di kantor, di kampung maupun di keluarga walau ibuku terkesan pendiam.
Ibu kini bahkan mulai lupa bagaimana menghidangkan hidangan yang nikmat walau dibuat dari bahan yang sederhana.....padahal dulu ibuku sangat pintar memasak. Bahkan aku paling senang makan dari piring sisa makan ibu....entahlah apa yang dipegang ibu menjadi sesuatu yang nikmat saat itu. Kini ibu hanya ingat bahwa beliau harus membeli Tahu setiap Abang sayuran datang...hingga persediaan tahu di rumah menumpuk dan nggak tahu mau diapakan. Bahkan setiap hari yang beliau ingat adalah mengupas bawang merah...mengirisnya tipis-tipis....dan kemudian mengorengnya....sampai persediaan bawang goreng kita lebih dari stock mingguan.....:-D. Oh ibu hal-hal itu kemudian menjadi perdebatan panjang diantara ibu dan aku serta adikku hingga aku tahu itu melukai hatimu....seharusnya kami biarkan ibu menjalani ritme yang ibu masih mampu ingat dan menikmat-nya. Apalah arti tahu dan bawang yang tak termakan dengan hatimu yang bahagia.....Maafkan kami ibu.
Melemahnya daya ingat ibu membuat ibu juga menjadi penakut....padahal dulu ibu kemana-mana pergi sendiri dengan sepeda motornya untuk mengurus urusan sekolah dan ketujuh anaknya....kini untuk pergi ke toko terdekat saja ibu minta diantar oleh bapak. Bahkan ibu menjadi takut apabila ditinggal sendiri di rumah besar kami....selalu harus ada yang menemani atau beliau lebih baik ikut kemana-pun bapak pergi. Aku masih ingat bahkan ibu minta ditemani tidur ketika ditinggal sendiri oleh bapak tugas ke luar kota.....sesuatu yang aku sesali hingga saat ini karena aku tidak memenuhi permintaan beliau hanya karena aku harus juga menemani Nadia anakku tidur.....Maafkan aku ibu.
Aku juga memilih untuk lebih banyak diam selama 2 bulan tinggal-ku di sana karena aku sendiri juga bingung menghadapi ibu yang sangat sensitif terhadap apapun yang kami katakan dan perbuat....dan itu juga membuat hatinya terluka....Maafkan aku ibu.
Kini dalam setiap sujudku kuminta padamu Ya Allah ijinkan aku punya waktu untuk lebih membaktikan diri-ku pada ibuku.....dan mencoba memahaminya. Amien.
Friday, April 24, 2009
Renungan Hari Kartini
“Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah”
Tuesday, 21 April 2009 09:12
Oleh: Adian Husaini
Tuesday, 21 April 2009 09:12
Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-269
Oleh: Adian Husaini
Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”
Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik 'pengkultusan' R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.
Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.
Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”
Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.
Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).
Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”
Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”
Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.
Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.
Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”
Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!... Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).
Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).
Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).
Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).
Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan. [Depok, 20 April 2009/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan. [Depok, 20 April 2009/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Subscribe to:
Posts (Atom)





