Showing posts with label 72 photograpy. Show all posts
Showing posts with label 72 photograpy. Show all posts

Friday, June 18, 2010

Light

"Light" yang menjadi bagian penting dari proses pengambilan sebuah foto, masih menjadi bagian yang tersulit bagi aku memahaminya. DPS minggu ini membahas mengenai si "Light" ini. Sedikit ngeh cuman nggak tahu gimana prakteknya nanti.

Aku baru menyadari akan pentingnya "Light" atau biasa kusebut "Pencahayaan" saat 3-4 tahun yang lalu kami mudik ke Magetan-Madiun dan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Mas Anies yang memang sudah memiliki studio foto asyik bereksperimen dengan menggambil foto-foto keluarga....bahkan sampai foto anak di pagi hari di tengah sawah menjadi hasil kreasinya. Sangat terkesan dengan hasil fotonya, akupun berniat untuk belajar tapi ya gitu cuma angin-anginan saja. Jadi ya hasil fotonya masih flat dan belum bisa memaksimalkan efek light yang bisa menjadi sesuatu yang amazing.

Thursday, June 10, 2010

Digital Photography Exposure

Pingin banget mulai benar-benar bisa meninggalkan mode "Auto" dan mulai bereksplorasi dengan manual setting. Tapi dasarnya masih gaptek ya sampai sekarang masih belum full berani mencoba...alasannya dari hasil coba-coba separuh masih banyak errornya. Alias gambar tampak nggak focus dan sering blur.

Dan setelah membaca artikel DPS aku jadi pingin menuangkan isi artikel itu di sini, untuk menginggatkan-ku lagi jika aku lupa. Maklum jeprat-jepret masih belum menjadi pekerjaanku hanya sekedar hobby disela sela waktu mengurus the baby yang belum bisa ditinggal.

Artikel kali ini membahas mengenai "The Exposure Triangle" yaitu 3 elemen yang patut diperhitungkan saat bermain-main dengan "Exposure". Ketiga elemen tersebut berhubungan dengan "Cahaya" dan bagaimana "Cahaya" tersebut masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah :

01. ISO - sebagai pengukur sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya

02. Aperture - ukuran bukaan lensa saat pengambilan gambar

03. Shutter Speed - lamanya waktu saat shutter terbuka

Perubahan dari salah satu elemen tersebut akan berpengaruh terhadap elemen yang lain.

Salah satu ilustrasi yang digunakan untuk menjelaskan hubungan dari ketiga elemen tersebut adalah memetamorfosekan "KAMERA" sebagai sebuah "JENDELA"

Ilustrasi ini mengajak kita membayangkan "Kamera" sebagai sebuah "Jendela" dengan "Shutter" -nya yang dapat terbuka dan tertutup.

Aperture adalah ukuran dari jendela tersebut, jadi jika ia besar maka semakin banyak cahaya yang bisa masuk ke ruangan tersebut dan ruangan menjadi terang.

Shutter Speed adalah lamanya shutter jendela tersebut terbuka. Semakin lama dibiarkan terbuka maka semakin banyak cahaya yang masuk.

Sedangkan mengambarkan ISO sebagai kondisi dimana anda berada pada ruangan tersebut dan menggunakan kacamata hitam. Mata anda akan semakin kurang sensitif terhadap cahaya yang masuk [ini seperti ISO yang rendah]

Sehingga ada beberapa cara untuk meningkatkan cahaya yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Anda dapat meningkatkan lamanya shutter terbuka [decrease shutter speed], atau dengan meningkatkan ukuran dari jendela tersebut [increase aperture] atau anda dapat melepaskan kacamata hitam anda [make the ISO larger].

_____________________________________________________________________
Note :
Shutter [photography] is the part of a camera which open temporarily to allow light to reach the film when a photograph is being taken.

Shutter [window cover] is a wodden cover on the outside of window which prevents light or heat from going into a room or heat from leaving it.
_____________________________________________________________________

Wednesday, June 9, 2010

Focal Point

Awalnya nggak ngeh juga apa yang dimaksud dengan Focal Point....ngaptek ya....xixixi. Pingin belajar fotografi tapi istilah-istilah-nya aja masih bingung. Begitu lihat salah satu artikel di DPS yang membahas materi ini baru deh sedikit ngeh.

Kalau nggak salah memahami yang diistilahkan sebagai Focal Point itu bisa juga diistilahkan sebagai Central Point of Interest atau bisa juga diistilahkan sebagai Point of interest [POI] yaitu obyek utama dari gambar/foto yang kita buat. Artinya mata setiap orang akan tertuju ke obyek tersebut saat dia melihat sebuah gambar/foto.

Kenapa FP ini menjadi penting karena pada dasarnya pada saat melihat sebuah image setiap mata pada umumnya menginginkan "resting place" atau sesuatu yang benar-benar menarik untuk dilihat karena kalau tidak mata itu lebih cenderung untuk mengacuhkan dengan cuma melihat sekilas aja hasil sebuah jepretan dan berpindah ke yang lain.

Di artikel DPS ini disebutkan tentang :

6 Teknik untuk meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan Focal Point :

01. Position

02. Focus


03. Blur

04. Size

05. Color

06. Shape





Saturday, June 5, 2010

Gaussian Blur

Menu "Filter" di photoshop sangat jarang kupakai. Ternyata dari DPS yang kubuka hari ini membuka mataku akan fungsi-nya yang bisa kuexplore.

Spesial hari ini aku belajar tentang efek dari penggunaan filter "Gaussian Blur". Dari hasil coba-coba pada sebuah foto aku melihat hasil permak foto yang memang kelihatan lebih cantik dan dramatis daripada aslinya.

Kucoba praktekkan pada foto Naila yang siang ini kuambil :

01. Duplikasi gambar dengan melakukan drag layer ke "new" icon [di deretan menu bawah layer palette], atau "klik kiri mouse > duplicate layer....> as" , atau bisa juga dengan shortcut "ctrl + j"







02. Pilih Menu Gaussian Blur [Filter > Blur > Gaussian Blur....] . Cukup samarkan sampai bagian detailnya hilang tetapi masih tampak lekukan bentuk-bentuknya.







03. Di layers palette, ubah blending mode dari "Normal" ke "Overlay"








Kalau diperhatikan terdapat perubahan pada gambar sebelum dan sesudahnya. Cara ini ternyata dapat diguakan untuk membuat area yang cerah menjadi lebih bersinar sedangkan area yang gelap menjadi lebih pekat. Jadi pada intinya, ini adalah salah satu cara untuk mengkontraskan gambar secara lembut.

Jika mau yang lebih dramatis lagi hasilnya bisa digunakan mode "Vivid Light" seperti contoh.

Saturday, May 29, 2010

Baca Sebuah Foto Layaknya Sebuah Buku

Melihat hasil foto para fotografer yang sudah malang melintang di dunia fotografi membuatku jadi pingin banget bisa punya hasil njepretan kayak mereka. Tapi sayangnya syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang "desperately want to gain knowledge" masih belum benar-benar merasuk ke dalam diriku. Padahal salah satu syarat keberhasilan untuk menjadi seorang better photograher adalah mau menyempatkan diri untuk belajar baik dari apa yang photographer lain hasilkan disamping aspek-aspek dari fotografi itu sendiri. Bahkan lebih ekstrim lagi mungkin harus seperti apa yang dikatakan Penny De Los "Look at the photographs like it's your job"

Kali ini aku coba mencari referensi dari internet dan bisa nyasar ke http://www.learnfoodphotography.com artikel Neel tentang "How to Read Any Photograph Like a Book"....coba mengikuti langkah-langkahnya deh!!!

01. Understand What is Great
Yang paling pertama dari membaca sebuah foto adalah mengerti apa yang membuat sebuah foto tampak berkesan stunning.

02. Identify The Main Subject
Mengenali apa yang menjadi Main Subject di dalam suatu frame foto akan membawa kita satu langkah lebih maju dalam memahami jalan fikiran sang fotografer.

03. Locate The Camera
Dapatkah kamu menentukan dimana lokasi kamera pada saat pengambilan gambar? Bagaimana sudut pengambilan gambarnya? Hingga membayangkan dimana sebenarnya posisi sang fotografet pada saat pengambilan gambar?

04. Light Source
Perhatikan dari mana sumber cahaya berasal. Apakah dari belakang kamera? Bersebrangan dengan kamera? Di kanan atau di kiri kamera? Apakah Multiple light? Dapatkah kamu melihat bayang2?

05. Elements of Arts
Bagian satunya kita berbicara tentang lines, shapes dan forms. Lalu di bagian duanya kita berbicara tentang color, space dan texture. Observasi element apa saja yang digunakan dan bagaimana dia digunakan bahkan lebih jauh lagi observasi bagaimana lagi sebuah elemen2 tersebut bisa dikomposisikan untuk menghasilkan foto yang lebih bagus .

06. Observe The Composition
Fikirkan dan observasi bagaimana penataan elemen2 di dalam foto tersebut . Apa yang menjadi pendukung dari obyek utama. Adakah obyek pendukungnya menguatkan atau malah mengaburkan keberadaan obyek utama yang seharusnya menjadi pusat perhatian.
Jika terdapat lebih dari dua obyek utama, harus diputuskan yang mana yang benar-benar akan menjadi obyek utama dan mengaburkan yang lainnya.

07. Within The Frame
Perhatikan posisi sebuah obyek di dalam frame. Bayangkan kira-kira perubahan2 memungkinkan yang bisa dilakukan untuk membuat foto tersebut kelihatan lebih stunning lagi.

08. Background Screening
Perhatikan background dari sebuah foto. Pelajari. Apakah background terkesan datar atau bertektur? Apakah backgroundnya memiliki beberapa obyek, lalu perhatikan jernih atau blur kah penampakan mereka? Apakah warna background putih membuat sebuah foto tampak lebih baik?Efek apa yang ditimbulkan oleh beberapa warna terang sebagai background?

- salam jepret -

Wednesday, May 12, 2010

Pecel Ndoro Guru

Dari dulu aku memang sangat suka melihat foto-foto makanan dan juga acara masak-memasak. Namun walau sangat suka, aku sendiri belum menjadi tipe orang yang senang menghabiskan waktu ublek di dapur. Jadi ya sampai saat ini-pun belum juga pinter memasak. Tips-Tips memasak pun melintas begitu saja karena tidak pernah dicoba. Sayang.....

Tapi karena saat ini aku sudah tidak pernah dikejar deadline kerjaan lagi, jadi disela-sela waktu mengasuh Naila aku mulai senang berekperimen dengan kamera Nikon D60-ku. Nah hari ini aku mencoba memberanikan diri untuk ikut food photography kompetisi. Walau Jam terbang yang belum tinggi, tidak menyurutkan aku untuk mencoba ikutan ajang kompetisi tanpa hadiah yang diselenggarakan oleh "Natural Cooking Food Photography Club" ini. Ini adalah event ke dua mereka setelah berhasil menyelenggarakan event pertama dengan tema "In Love With Food". Duh lihat foto-foto yang menang cantik-cantik jadi pingin banget buat ikutan.

Jadi pagi ini aku jadi ngebet pingin motret sarapan kami. Padahal sarapan kami cuma Nasi Pecel yang ditambahkan dengan tempe dan telur mata sapi. Nah Nasi Pecelnya aku pincuk di daun pisang yang memang lagi tersedia di kulkas hasil belanja di Pasar Rapak. Dengan tambahan tempe dan telur jadi terkesan makanan ndeso banget ya....beda dengan kebanyakan foto2 yang sarapannya roti, cereal atau buah.....hihihi....tapi ndak pa-pa wong sarapan begitu itu sehat. Komplit ada makanan nabati dan hewani plus seger.

Nah Property yang digunakan khan disyaratkan seminimal mungkin..hanya boleh 3 macam diluar piring/mangkok tempat makanannya plus taplak. Jadi aku pakai cangkir putih [ini adalah Mbak Ani] yang kesannya old plus jadi ingat juga buku karangan Umar Kayam "Para Priyayi" yang tokoh utamannya [biasa dipanggil ndoro guru] punya kebiasaan makan nasi pecel sampai tuannya. Jadi judul fotonya ya "Pecel Ndoro Guru".....hihihi.

Pengambilan gambar kuusahan menggunakan sinar matahari pagi yang diyakini sangat bagus buat lighting natural. Jadi jeprat-jepret kulakukan di ruang depan dengan jendela yang terbuka. Hasilnya bisa dilihat di atas. Kucrop sedikit untuk membuang pinggirnya biar proporsional komposisinya lalu kukirim ke http://www.flickr.com/photos/breakfastncfpc. Berharap ada comment yang masuk dan memberi tambahan ilmu.

Oh ya saat jeprat-jepret ini, aku ditemani Naila yang menangis termehek-mehek gara-gara dicuekin...kacian. Jadi pengambilan gambar-nya sampai beberapa kali karena diselingi menenangkan si buah hati ....hehehe

Wednesday, May 20, 2009

Courses di Hamilton Adult Campus

Sudah lama banget aku nggak beres-beres materi MYOB yang masih dengan setia tertumpuk di lemari. Berhubung saa kepulangan sudah semakin dekat. Hari ini niat deh buat bebersih file sekalian mencoba menginggat lagi beberapa materi yang sudah aku dapatkan selama ini.

Jadi ingat lagi kalau dulu aku harus sering harus pontang-panting sepulang kerja untuk sekedar untuk menambah isi di otakku. Sebenarnya aku pingin juga bisa mendaftar di Tafe atau mencari CPA. Sayangnya apabila aku mendaftar di Tafe maka visa-ku harus dirubah menjadi full time student dan aku hanya diijinkan untuk bekerja part-time selama 20 jam saja per-minggu plus biaya yang harus dikeluarkan. Jadi aku memutuskan untuk mengambil kesempatan mencari dollar plus mengambil kursus yang masih memungkinkan. Jadi pilihan jatuh pada Hamilton Secondary College milik Goverment of South Australia di bawah Department of Education and Children's Service. Kenapa jadi pilihan? karena selain biaya-nya kuanggap paling murah, trus visa kita juga eligible plus kita bisa mengambil kelas pagi, siang atau malam tergantung kesempatan kita di sela-sela waktu kerja kita. Banyak sekali kursus yang ditawarkan....dan amat sangat sayang kalau sampai dilewatkan....benar-benar bisa menambah kemampuan kita karena guru-gurunya profesional, fasilitas mendukung....dan suasana kelas yang hidup.

Selama hampir 2 tahun ini, aku sudah mengambil kelas Bahasa Inggris - Adult Literacy Skill 1 tahun penuh...hasilnya walaupun aku merasa masih belum cukup mampu berbahasa Inggris dengan benar namun semua itu telah menambah kepercayaan diri untuk berkomunikasi dengan para native speaker....Lumayan nggak terlalu malu-maluin....tinggal mengasah sendiri lagi kemampuan menulis.....^-^.

Kelas lain yang kuambil selama 3 term adalah kelas MYOB....dari kelas Introduction, Advance sampai Payroll. Jadi kalau sekarang utak-atik program ini sudah nggak bego-bego banget. Tapi sebenarnya hampir semua program keuangan mempunyai basic yang sama cuma malah keflexibelitasannya dalam menyajikan informasi akhir bagi pengambilan keputusan aja yang berbeda.

Karena begitu terpesonanya dengan alam Adelaide, aku lalu begitu ingin mengabadikan detail-detail alam dan merekam-nya ke dalam bentuk digital. Maka mulailah aku tertarik untuk mengikuti kelas photographi. Sebenarnya kelas ini nggak mengharuskan siswanya harus punya kamera sendiri karena pada saat pelajaran di kelas, siswa bisa meminjam kamera2 Pentax yang disediakan. Cuma karena aku sudha ngebet pingin sering praktek sendiri maka akhirnya aku membeli sebuah kamera Nikon D-60. Lumayan sekarang sudah nggak takut-takut lagi buat pegang kamera SLR semacam ini....

Saat aku mulai tertarik dunia photo memphoto, aku menemukan majalan scrapbooking yang menimbulkan inspirasi untuk mulai mempermak foto-foto yang ku ambil. Tapi aku maunya main di photoshop aja. Khan lebih murah daripada beli berbagai pernak-pernik yang kecil-kecil tapi kalau di total bisa menghabiskan uang bulanan juga....^-^. Akhirnya pilihan jatuh pada kelas Photoshop......siip sekarang sudah bisa lagi ngerti ngimana main-main dengan berbagi tool yang ada di photoshop dan hasilnya nggak jelek-jelek amat.....:).

Friday, September 19, 2008

Monochrome

Hari ini kelas Photography membahas mengenai fasilitas photoshop. Jaman sekarang digital photo nggak ngerti photoshop kayaknya nggak mungkin deh. Jadi program ini termasuk dalam pelajaran kelas dasar.

Maka fasilitas yang dibahas hari ini adalah mengenai "Monochrome". Bob sih ngasih pesan...nggak usah mainin pilihan monocrome di kamera. Foto berwarna aja sebagai dasar....soalnya nanti cacat ataupun kurang menariknya foto bisa dipermak di photoshop....he....he....he....asal nggak parah-parah benar bisa lah photo biasa disulap jadi lebih spekta.

Caranya :
  • Jangan lupa buka dulu image yang mau dipermak ==> File > Open
  • Biar foto asli-nya nggak ketimpa sama hasil rekayasa genetika kita maka di duplicate dulu aslinya ==> Image > Duplicate
  • Untuk bikin monochrome effect kita pergi ke ==> Image > Adjustment > Desaturate atau Image > Adjustment > Hue/Saturate
  • Lalu kalau mau salah satu obyek dikembalikan warnanya tinggal pilih tombol "History Brush Tool" dan sapukan aja kuasnya ke obyek yang ingin ditampilkan gambarnya.
Sebenarnya Bob juga ngasih beberapa fungsi yang lain untuk menghasilkan effek monochrome seperti menggunakan :
  • Grayscale mode
  • Channel Mixer Methode
  • LAB Mode

cuman belum pernah di coba. Jadi aku harus sabar untuk latihan dulu.

Friday, September 12, 2008

Night Shots

Kelas Photography hari ini membahas mengenai "Night Shots". Sebenarnya hari ini Bob ingin menjelaskan mengenai beberapa fasilitas yang ada di Adobe Photoshop. Tetapi karena hari ini beliaunya juga hendak membantu kelas advance untuk memproses pembuatan klise film di dark room, sekalian aja kita habiskan waktu untuk membahas mengenai Night Shots di ruangan yang ternyata suasananya mendukung.

Kenapa aku pingin banget Bob membahas mengenai Night Shots. Pertama karena keberhasilan mengambil gambar di acara Royal Adelaide Show cuma mendekati angka 50:50. Kondisi ini disebabkan aku memang tidak mengantisipasi masalah yang bakal muncul. Ketika aku mengambil gambar di malam hari kondisi2 yang kuhadapi adalah penerangan yang sangat kurang untuk yang satu ini aku sudah pakai ISO dengan angka tertinggi saat itu 1600, jarak antara objek yang diambil dengan posisiku yang tidak memungkin untuk mendekati objek (harusnya aku bermain dengan tele lensa saat itu cuma kelupaan di bawa), karena setiap objek yang terekam adalah bergerak seperti pacuan kuda, balap mobil, balap sepeda motor, maching, firework (harusnya saat itu aku membawa tripod-ku), bahkan aku nggak tahu sama sekali gimana cara mensetting timer (yang ini penting untuk mendapatkan sebanyak mungkin pencahayaan yang bisa masuk ke lensa. Benarkah?). Jadi aku nggak mau lagi mengalami kegagalan mengabadikan momen-momen yang menarik di hari Minggu. Alasan keduaku adalah Latern Festival di Elder Park di hari Minggu nanti.

So hari ini dengan sarana studio yang ada di ruangan dark room. kami mencoba mengambil gambar-gambar dengan penerangan yang terbatas. Masih kurang berhasil juga tapi Bob memberikan beberapa saran yang dia tulis untukku untuk mengatasi hal ini.
1. Apenture Priority kalau bisa dibuat angka sekecil mungkin
2. Gunakan Manual Focus (jangan automatic focus)
3. Gunakan Tripod (jangan lupa lock up tight biar nggak gampang berubah-ubah).
4. Gunakan ISO 1600 kalau terlalu windy(tetapi kalau calm weather bisa gunakan ISO 800 atau 400)
5. Keep widest lens opening at all focal lenght (3.5 untuk 18 mm atau 5.6 untuk 55 mm)
6. Kalau bisa sih pakai lensa panjang menginggat bakal susah mendekati sungai karena suasana yang bakal sangat ramai.
7. Dan terakhir pakai self timer.
Nih hasil uji coba di Lab.....beginner....beginner.....beginner.....gagal maneng.....gagal maneng

Saturday, September 6, 2008

Firework

Mencoba men-shot firework ternyata masih juga menimbulkan problem. Hanya mengharapkan keberuntungan aku meng-setting




  • Exposure Program di "Shutter Priority"
  • ISO Speed di ISO-1600
  • Exposure Time 1/5 detik kadang 1/15
  • F-Number Apeture F/3.5
  • Focal Lenght (Lensa) 18 mm
  • Flash Mode adalah No Flash
Hasilnya sebagian nggak terfokus.....so masih mengandalkan keberuntungan....:-))

Saturday, August 2, 2008

Kecemplung Ke Kelas Photograpy

Ingin tahu lebih dekat mengenai dunia photography tiba-tiba aja datang seketika. Masalahnya cuma dipicu oleh ketakjuban pada keindahan alam di Adelaide. Untungnya kami tidak tinggal di pusat kota. Di Suburb kami suasananya sangat alami sekali. Pohon-pohon besar yang meneduhi jalanan. Park disamping unit kami juga indah dengan sungai kecil yang selalu menjadi tempat bermain para bebek. Dan di musim summer tempat ini nggak pernah sepi dengan acara BBQ.

Letak unit kami memang strategis, nggak terlalu dari pusat kota, nggak terlalu dari freeway (jadi kalau mum harus kerja ke desa maka kalau cari tumpangan cukup menunggu aja di pintu masuk freeway...he...he....). Tempat kami juga nggak terlalu jauh dari Flinders University dimana Dad harus bergelut dengan ilmu-ilmu-nya. Kalau kami ingin suasana baru kami tinggal naik sedikit ke atas bukit buat menikmati hijaunya suasana perbukitan dan pedesaan plus bisa melihat Adelaide dari atas bukit. Very Beautiful and Romantic di malam hari.

Karena ingin banget mengenang moment-moment ini dan kalau bisa membagi dengan saudara-saudara di Indo. Maka aku bertekad untuk ya belajar biar nggak geblek-geblek amat. Lagian Adult Campus di sini pun sangat menfasilitasi keinginan kami ini. So jadi kecemplung deh di kelas yang menarik ini. Punya guru yang sangat mendukung dan teman-teman ahli yang nggak segan-segan untuk membantu. Duh enak banget kalau mencari ilmu ditunjang fasilitas dan suasana kelas yang seperti ini.