Showing posts with label 01 diary. Show all posts
Showing posts with label 01 diary. Show all posts

Thursday, July 21, 2016

Tips Membuat Kremesan




Pagi hari ini pak sayur lagi komplit bawaannya. Dan jadi kepikiran untuk membuat bandeng kremesan buat sarapan. Nah karena di Salatiga terkenal juga dengan bandengnya yang sudah dipresto. Maka harinya ceritanya adalah menemukan cara membuat bandeng presto itu cantik sedap dipandang dengan balutan kremesan

Jadi ingat kemarin waktu Chef Marco bikin Arancini dari sisa Risotto.............. Episode Master Chef OZ  tgl 16 Juli 2016. Maka aku siapkan saja telur yang sudah dikocok lepas (tapi lupa mbumbuin). Dan perbandingan tepung beras dan tepung terigu 1:1 (ini juga lupa dibumbui). Masukkan ikan ke campuran tepung, terus ke telur, terus ke tepung lagi dan siap digoreng. Ternyata hasilnya malah kayak bikin Ayam Goreng Kentucky. Walah salah teknik. Kata suami tepungnya ketebalan dan hambar ma.....Tapi seperti biasa beliaunya selalu setia memompa semangat-ku. Coba lagi....dan coba lagi saja.



Jadi mangkel juga nih hati....nyadar diri aku nih sepertinya cuma kurang usaha aja kalau dalam masak memasak. Banyak ibu yang awalnya ndak bisa masak sekarang malah berjaya buka catering. Nah jadi harusnya memulai dengan Curiosity dulu. "Gimana sih bisa bikin tampilan makanan cantik2 itu"

Akhirnya googling dan ketemu dengan satu resep yang sangat membantu banget di www.diahdidi.com. Langsung ditulis dan dinget2 tips dan triknya. Dan hari ini juga aku akan eksekusi...toh semua bahannya lagi ada.

Maka da-da..... jadilah...

 Proses ini berbuah hasil  3

Yang pertama : hasilnya kegosongan, karena aku tidak segera mengecilkan apinya. (ternyata permainan api diperlukan juga, disamping harus rajin membersihkan minyaknya karena kuatir sisa gorengan sebelumnya bisa mengotori hasil berikutnya)

Yang kedua : alhamdulilah jadi menyarang dan warnanya cantik. Jadi membayangkan dan menghayal kayak kremesan Nyonya Suharti kesukaan bapakku dulu ....hehehe

Yang ketiga : karena kulihat adonan masih kemungkinan bisa dijadikan 2 batch lagi, cuman aku udah nggak sabar supaya segera selesai, maka aku menuangkan adonan ke minyaknya kebanyakan. Dan hasinya mengumpal.


Tapi jujur, hari ini hati terobati banget bisa bikin sesuatu yang bagiku saja kelihatan sesuatu yang mustahil kulakukan. Maklum aku bukan tukang masak banget.

Note :
Jam 10: 00
Naila langsung habis 2 piring sarapan kesiangannya. Entah karena kelaparan atau karena eman enak. Tapi anaknys sih bilang enak ma.....Alhamdulillah bisa nyenengkan hati anak. Tinggal nunggu Nadia dan bapaknya saja nih di makan malam nanti. Moga masih tetap crispy. 

Buat nginget-inget, bikin aja catatan seperti ini.

Bahan :
  • Adonan lebih banyak tepung sagu/tapiokanya dibandingkan dengan tepung berasnya. Perbandingannya 3:1
  • Air kaldu 350 ml
  • 1 kuning telur

Cara Membuat :

  • Aduk tepung sagu/tapioka, tepung beras, dengan air dan kuning telur, hingga rata dan adonan halus tidak bergerindil (adonan kremesan memang agak cair)
  • Panaskan minyak goreng agak banyak hingga benar-benar panas.
  • Tuang adonan kremesan, paling mudah pakai tangan saja. Tuang dari jaraj agak tinggi dari wajan agar kremesan bisa langsung menyarang.
  • Biarkan sampai kering baru diangkat
Tips Membuat Kremesan 
  • Gunakan wajan anti lengket agar kremesan tidak menempel di dasar wajan
  • Adonan kremesan memang agak cair. Jadi ketika dituang diatas minyak panas dia akan langsung membentuk serabut2 kecil. Biarkan sampai setengah kering. Jangan diaduk-aduk karena akan menyebabkan menempel satu demi satu. Dan malah nggak akan jadi kremesan
  • Ketika menuang adonan kremesan ke dalam minyak, Jangan terlalu banyak. Sesuaikan dengan besar-kecilnya wajan.Kalau pakai teflon kecil biasa standar, cukup satu sendok saja adonan yang dituang. Karena jika terlalu banyak yang dituang. Jadinya malah akan mengumpal dan ndak jadi kremesan.
  • Menuang adonan kremesan, usahan agak jauh di atas wajan. Biar kremesannya hasinya bagus.
  • Tambahkan kuning telur untuk kremesan yang lebih empuk dan gurih
  • Minyak harus sudah dalam keadaaan panas, sehingga ketika dituang bunyinya berisik. Dan langsung terbentuk serabut2 yang menyarang cantik. Jika minyaknya kurang panas, serabut2 itu tidak akan langsung terbentuk. Yang ada adonannya lembek dan jadi lama keringnya. 
  • Jika sudah terbentuk serabut2 kremesannya, api bisa dikecilin dikit, lalu goreng hingga kering kremesannya
  • Jika mau kremesannya menyelimuti bahan yang dikremes, pas udah setengah kering kremesannya, masukin bahannya misanya ayam,tempe dll yang mau dikremes. Lalu lipat kremesan dari semua sisinya hingga menyelimuti bahan, lalu goreng hingga kering. 
  • Jika tidak ada bahan yang diselimuti, biarkan saja kremesan sampai kering dan diaduk-aduk sebentar. Nanti kremesan akan terpisah-pisah sendiri ketika sudah kering.
  • Pakailah air rebusan ayam yang sudah berbumbu untuk membuat kremesan agar hasil kremesan sudah enak dan gurih (rasa dan bau ayam). 
  • Jangan terlalu banyak memaki gula, supaya kremesanya tidak cepat gosong 
  •  Karena kremesan ini dibuat untuk lauk, bukan cemilan, jadi bumbunya harus lebih gurih dari jika di makan langsung. Supaya jika dimakan sebagai lauk nasi putih. bisa tetap terasa gurihnya
Resource : www.diahdidi.com

Sunday, December 1, 2013

Mendidik Dari Mula


Sepulang sekolah, sambil sibuk membongkar isi tas sekolahnya, seperti biasa Nadia [udah jadi siswa SMP] mulai asyik berceloteh tentang hal-hal yang dialaminya sepanjang hari di sekolah.  Dan biasanya  aku menemani dan mendengarkan celotehannya sambil menyiapkan makanan siang, sekedar membuka-buka artikel di laptopku ataupun membolak-balik buku-buku untuk mencari materi yang menurutku akan asyik kalau dipakai untuk diskusi malam kami . “Masak ma, aku lihat ada kakak kelas cewek-cowok yang pegang-pegangan tangan di mushola. Padahal yang cewek pakai jilbab lo ma. Kok bisa ya?” dengan gaya polosnya dia lanjut bertanya. “Cowok-cewek itu khan nggak boleh dekat-dekatan, iya khan ma?” lanjutnya lagi.

Sambil menyimak. aku berkata dalam hati, “Ini dia, masa itu sudah tiba". Yah waktu telah berlalu dan anakku sudah mulai menginjak usia remaja. Aku sudah meyakini akan ada masa ketika aku harus menjelaskan tentang hal-hal begini. Dan Sejak kami menikah, aku dan suami juga sudah bersepakat mencari ilmu terus menerus untuk mencegah upaya-upaya tanpa sengaja kami  mematikan curiosity dalam keluarga kami terutama anak-anak kami. Dan saat ini, aku hanya berharap dalam hati semoga aku bisa menyelesaikan tantangan kali ini. 

Maka mulailah aku bertanya pendapat Nadia mengenai kejadian tersebut. “Menurut kakak sendiri gimana sikap itu?”, tanyaku. Dengan tegas dia menjawab “Ya ndak boleh ma., wong berdua-duaan aja dilarang. Apalagi pakai pegang-pegangan tangan…..Iiiiiih.”. Mukanya jadi ikut mengeryit. Uh tanpa bisa ditutupi aku bernafas lega. Alhamdulillah dia sudah bisa mengambil sikap. “Memang kenapa kalau mereka nggak boleh dekat-dekatan?” tanyaku jadi ingin tahu. “Khan mereka bukan muhrim”.  Sekali lagi kutarik nafas lega. Alhamdulillah dia sudah mulai memahami.

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya”
(HR Bukhari & Muslim)

“Sungguh tidaklah seorang laki-laki bersepi (berduan) dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah syaitan”
(HR at-Tarmidzi)

Celotehan Nadia tadi membawaku teringat salah satu kalimat salah seorang motivator. “Mendidik seorang anak seyogyanya bukan baru dilakukan ketika seorang anak dilahirkan, tidak juga ketika seorang anak masih berada dalam kandungan. Namun seyogyanya dimulai saat seorang lelaki/wanita memilih calon suami/istrinya. Maka pilihlah calon ibu atau ayah yang baik bagi anak-anak kita ”  Yang memang menjadi salah satu hak anak yang harus kita penuhi.

Jadi terkenang masa-masa sebelum aku memilih Mas suami sebagai suami dan calon ayah bagi anak-anakku. Saat itu tentu saja pengetahuan agamaku masih minim sekali dan sampai saat ini pun masih jauh dari mencukupi. 

Kami bertemu saat kami berdua bekerja di sebuah perusahaan pertambangan asing jauh di pelosok Kalimantan Timur. Aku adalah murid beliau di Human Resource Center tempat beliau bekerja sebagai trainner bagi para karyawan perusahaan. Dari sekedar pertemanan di kantor dan sesekali bertemu di area Senior Camp - tempat tinggal kami, seperti di Mess Hall – tempat kami makan dan Recreation Hall, area rekreasi karyawan, para. akhirnya suatu hari beliau mengirimkan sepucuk surat elektronik - email kepadaku untuk mengajak  berbicara serius. Dan yang membuat-ku terkesan sekali adalah pertanyaan pertama beliau kepadaku apakah aku sudah di Khitbah oleh seseorang atau sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Tentu saja kujawan “tidak, dan tidak pernah”. Dan memang, InsyaAllah sepanjang ingatanku, semasa remaja hingga dewasa aku belum pernah berkeinginan untuk menjalin hubungan seperti pacaran dengan seorang lelaki-pun.  Sejak remaja aku hanya memfokuskan diriku untuk belajar, mencapai prestasi tertinggi yang aku mampu lakukan, lalu kemudian bekerja untuk membuat kedua orang tuaku bahagia. Urusan berjodoh semua kuserahkan kepada yang di atas. Sampai-sampai bapakku saja bingung karena kelihatannya aku punya banyak teman lelaki, dari aktivitas organisasi yang kuikuti, yang berkunjung ke rumah tetapi kok sepertinya tidak ada yang special bagiku….hehehe. Namun alhamdulillah kedua orang tuaku tidak pernah sedikitpun memaksaku untuk segera mencari jodoh. 

Dan ternyata Mas suami-pun demikian, Insyaallah beliau belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita-pun. Bahkan sedemikian cueknya dia pada hal-hal seperti itu sampai-sampai iparnya mengatakan kalau beliau itu setengah sufi deh…..walah ada-ada saja.

Dan akhirnya Mas suami-pun mengutarakan niatnya untuk meminang diriku. Saat itu aku tentu saja belum bisa menjawab langsung. Karena begitu jauhnya lokasi bekerjaku yang di Kalimantan dengan tempat tinggal kedua orang tuaku maka aku mencari bantuan teman-teman terdekatku untuk mencari informasi mengenai siapa dan bagaimana sebenarnya lelaki yang meminangku ini. Alhamdulillah informasi positif diberikan oleh teman-teman yang juga mengenal beliau dan mereka mendukung seadainya kami  bersatu. 

Maka demi untuk menjajagi keseriusan beliau, aku mengajukan 3 syarat. Yang pertama, beliau harus segera pergi ke Surabaya untuk meminta-ku kepada ayah-ku. Yang kedua hari pernikahan harus diselenggarakan as soon as possible dan tidak perlu bermewah-mewah. Yang ketiga, selama menunggu proses menuju pernikahan aku tidak ingin kita kelihatan runtang-runtung berdua seperti orang pacaran. Cukup hanya kita, sanak saudara dan teman-teman terdekat kita saja yang tahu proses ini. Dan alhamdulillah semua dengan gentlemen beliau penuhi. Beliau datang ke rumah Surabaya sendirian untuk meminta kepada bapak. Lucunya karena lugunya dia datang-pun hanya bersandal jepit. Jadi kebayang dengan tubuh kurus, wajah lugu seperti anak SMA dan bersandal jepit, bagaimana dia bisa meyakinkan bapakku untuk menerima pinangannya. Dan aku menginformasikan kedatangan beliau ke bapak hanya lewat telepon. Lalu Selama proses menuju pernikahan-pun kami lebih sering berkomunikasi lewat e-mail maupun telepon. Dan hanya seminggu sekali beliau datang untuk mengkonfirmasikan beberapa hal ke barak-ku. Yang jarak sebenarnya  cuma terpisah satu barak saja dari baraknya. Dan itupun hanya kutemui di ruang tamu dan tidak boleh masuk kamarku (seperti kebiasaan karyawan di sana yang mengijinkan teman-teman lelakinya masuk ke dalam kamar mereka) .Sampai teman-temanku dan teman-teman beliau  pada terkejut ketika kami menyerahkan undangan pernikahan yang baru kami berikan 1 hari menjelang keberangkat kami pulang ke rumah kami masing-masing untuk persiapan pernikahan di tanggal 1 April…..hihihi. Sampai-sampai mungkin mereka mengira aku lagi keranjingan bikin “April Mop” seperti budaya barat.

Kamipun mencoba membuat pernikahan kami sesederhana mungkin dengan memilih untuk membuat undangan pernikahan kami seminimalis mungkin namun tidak kehilangan unsur keindahan dan berharap bisa didaur ulang menjadi sebuah pembatas buku, dan bukan hanya jadi selembar kertas yang nantinya dibuang percuma setelah membacanya. Aku ingat sekali, di dalam undangan itu tertulis Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali Bin Abi Thalib. Yang menjadi harapan kami juga dalam pernikahan kami

“Semoga Allah Menghimpun Yang Terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas hidup mereka. Menjadikan pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat”

Lalu dibaliknya ada sebuah quote yang mencerminkan kecintaan kami pada buku yang ingin kami wariskan kepada anak cucu kami kelak, sebagaimana bapakku telah mewariskan kecintaan itu kepadaku.

“Buku adalah teman bicara yang tidak mendahului ketika kamu sibuk, tidak memanggilmu ketika kamu tengah bekerja, tidak memaksamu agar kamu berdandan untuknya. Dia teman duduk yang tidak menganggumu, sahabat yang tidak membujukmu, kawan yang tidak membosankanmu dan penasehat yang tidak mencari-cari kesalahanmu.’

(Ahmad Bin Ismail)

            Acara pernikahan kamipun digelar sesegara kemampuan kami untuk menyelenggarakan serta tanpa mengikuti tetek bengek adat istiadat  yang biasanya ada pada pernikahan Jawa yang tidak ada tuntunanya dalam Islam. Skip semua deh pokoknya…..hehehe. Dan alhamdulillah kedua orang tua kami setuju. Walaupun kami harus juga bertenggang rasa kepada keinginan orang tua untuk membuat acara yang sedikit besar dengan mengundang banyak tamu karena sanak saudara dan teman-teman kedua orang tua kami yang banyak.

Barakallahu laka wabaaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khoirin

“Semoga Allah senantiasa memberkahi anda dalam suka dan duka dan menghimpun anda berdua dalam kebaikan
(HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Doa-doa para tamu menjadi penguat diri kami untuk menjalani lembaran baru kehidupan kami. Memang tidak sesempurna kisah pernikahan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau serta alim ulama. Namun paling tidak kami mencoba untuk meneladani sedikit apa yang telah dilakukan beliau dengan mencoba sedari muda menjaga pergaulan kami. Sehingga kami mengharapkan dapat mengemban amanah dalam mendidik buah hati kami.

Kini masa telah berganti. Kami yang dulunya adalah seorang anak saja kini harus mengemban juga amanah untuk menjadi orang tua bagi buah hati kami. Maka upaya kami dulu untuk menjaga diri kami dan berusaha untuk terus menerus menjadi hamba Allah yang baik, kini bertambah dengan amanah untuk membantu anak-anak kami untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat dalam membela agama Allah SWT hingga mereka dapat melahirkan generasi yang lebih baik lagi.  
             
        Kami-pun mencoba beberapa upaya yang terus menerus kami lakukan. Yang pertama tentu saja dengan terus menerus mendoakan anak-anak kami  

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S Al Furqon :74)

Yang kedua adalah kami tetap berusaha secara terus menerus untuk memberikan teladan yang baik sesuai dengan ajaran agama walaupun masih dalam batas pemahaman keislaman kami yang masih terus menerus kami coba tingkatkan. Bukankah teladan adalah sebaik-baiknya cara untuk mendidik seorang anak.

Yang ketiga adalah mengajak mereka untuk lebih mendekatkan diri dan memahami agama mereka dengan mendekatkan mereka kepada Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber pedoman kehidupan mereka nantinya. 

Yang keempat kami selalu berupaya menyempatkan diri untuk mengajak dia berdialog mengenai konsep-konsep Islam baik dalam pergaulan antara lelaki dan perempuan, apalagi yang berhubungan dengan kasus-kasus yang dia alami dalam kehidupan sehari-hari. Maupun dalam hal-hal lain seputar kehidupan sebagai seorang muslim. Sehingga kami mengharapkan dia bisa memiliki pikiran yang terbuka mengenai agama yang dia yakini dari kecil ini. Di dalamnya pun, kami mulai sedikit demi sedikit juga membekali dia dengan pengetahuan seputar perkawinan yang di dalamnya ada tanggung jawab, ibadah dan kemulian dalam mengemban misi pembentukan generasi Islam sebagai sebuah amanah dari Allah SWT.

Dalam hening malam lirih kuucap dalam dialogku kepada-Mu ya Allah

“Ya Allah, mohon ampunilah kami atas banyaknya kezhaliman yang telah kami lakukan terhadap diri kami dan anak-anak kami yang disebabkan oleh kejahiliaan dan kelalalian kami. Dan jadikanlah kami termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa memelihara amanah yang dipikulnya sehingga kami termasuk dalam golongan orang-orang yang berhak mewarisi surga Firdaus-mu dan akan kekal di dalamnya. Amien” 

Salatiga, 1 December 2013
Tulisan yang belum menembus salah satu "x"

Sunday, June 30, 2013

Berani Gagal

Simpulan ini dibuat dengan niat menginggatkan diri sendiri......Ayo bangkit lagi...bangkit lagi..... 


 Hanya orang yang berani gagal total, 
akan meraih keberhasilan total


Mengutip paragraf dalam buku "Cara Gila Jadi Pengusaha".............

Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian di balik itu). 
~ Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita 
   dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan 
   diri kita kepada Tuhan. 
~ Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah.
~ Untuk menjadi berani ketika kita takut

Banyak orang membuat kesalahan yang sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.


Beberapa sebab dari kegagalan itu antara lain :

01. Kita sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah.
02. Setiap bertindak, kita sering terpegaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita
03. Biasanya kita terlalu melankolis, dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini 
      dilahirkan dengan nasib buruk.
04. Kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus 
      memulai kembali suatu usaha.

Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kita bekerja sepuluh kali lebih giat lagi. Dengan memiliki sikap dan pemikian semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sbg sosok yang selalu optimis akan masa depan. 

Janganlah kita suka mengukur seorang dengan menghitung 
berapa kali dia jatuh 
Tapi ukurlah berapa kali ia bangkit kembali 

Tuesday, February 26, 2013

Perjuangan Itu Tidak Instan…….


Keputusan menghentikan sebagian aktifitasku untuk fokus pada perkembangan putri-putriku akhirnya berbuah hasil juga. Hari ini, di papan pengumuman sekolah terpampang hasi Try Out UN pertama SDIT Nidaul Hikmah dengan nama Nadia (nama anak pertamaku), di urutan pertama. Nilai total 26 berhasil di raihnya, 9 untuk bahasa Indonesia, 9 untuk Matematika dan 8 untuk IPA. Mungkin bagi orang tua lain itu hal ini hanyalah urusan biasa, toh nilai memang tidak menentukan segalanya. Tetapi bagi-ku proyek kecil bersama anakku ini menjadi begitu berarti kalau menginggat perjuangan gigih dia mencoba mewujudkan salah satu mimpinya. Tanpa terasa ada sedikit linangan air mata yang tergenang di ujung mataku. Selamat ya nduk….perjuangan kita baru saja dimulai.


“Ma, jangan sibuk di depan computer terus toh, mbok bantu aku belajar untuk UN” begitu rengek si sulung memintaku di akhir November 2012. Di saat itu aku memang masih sibuk-sibuknya untuk menyelesaikan proyek organisasiku yang seperti biasa cukup menyita waktu dan pikiranku di sela-sela urusan keluarga.  Ups, what’s wrong nih? Nggak biasa-biasanya ada statement begini. Biasanya dia berempati aja dengan kegiatanku yang seabrek yang jujur saja di saat-saat tertentu jadi agak terlalu padat….hehehe ….”Loh khan biasanya mama juga bantu kakak kalau lagi belajar”, jawabku membela diri sambil sedikit mengernyitkan kening. Benakku mulai berusaha mencerna. Kok kelihatan desperate banget nih anak, bukankah hampir selama setahun belakangan ini dia sudah begitu mandiri untuk belajar sendiri tanpa perlu terlalu kuawasi. Tidak seperti awal-awal dia kembali mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikannya, dimana aku harus jatuh bangun untuk membantu dia memahami bahasanya sendiri. Dan sepanjang setahun ini hasil pelajaran di sekolahnya pun alhamdulillah tidak juga menurun atau mengecewakan.

Permintaan sedikit menghiba itu, akhirnya membuatku berfikir. OK deh kalau anak sudah protes begini, berarti ada yang sedikit error. Maka kuputuskan untuk fokus dulu deh pada nih anak yang minta perhatian. Dan mulailah aku mencoba mencari tahu duduk persoalannya. Pertama, kucek dulu kinerja kerja sebagai ibu rumah tangga. Kenapa dia sampai protes bahwa aku walau fisiknya berada di rumah tetapi pikirannya ternyata melalang ke penjuru dunia…..hehehe. Protes sulungku “Mama terlalu sering berada di depan computer” menjadi masukan yang akhirnya membuatku memutuskan untuk mulai menggurangi dulu aktifitas-aktifitasku di luar kedua anakku, walaupun sebenarnya aktifitas itu cukup produktif….bukankah menebarkan ilmu juga merupakan sebuah ranah produktifitas ibadah.

Dan aku berjanji padanya untuk berusaha membantunya sekuat mungkin untuk mewujudkan mimpi Sukses UN-nya. Dan langkah pertama kali yang kulakukan adalah mencari tahu dulu atau memetakan kemampuan dia dalam memahami materi 3 mata pelajaran yang akan di UN-khan itu. Aku mulai hunting buku-buku yang berhubungan dengan UN sampai blusukan cari buku loakan ke loakan Pasar Raya Salatiga…..hehehe. Gitu ya kalau udah focus, sambil jalanpun mata masih aja kelihatan aja kalau ada buku-buku bekas yang kelihatan bisa digunakan untuk menambah perbendaharaan soal-soal. Dan tentu saja tak lupa mencari pinjaman buku  dari Ibu Guru-nya  dan kakak-kakak kelas-nya.  

Walau pilihan untuk mengikutkan  dia Les di beberapa lembaga bimbingan belajar yang banyak bertebaran bisa saja menjadi solusi yang termudah, tapi kami berdua (aku dan bapaknya) tidak mengijinkan dia untuk ikut, karena kami berdua sudah membayangkan betapa jenuhnya pikiran dia. Sudah seharian belajar materi kurikulum di sekolah. Eh pulang-pulang masih juga harus les duduk manis ketemu dengan hal-hal yang sama. Dunia khan tidak selebar daun kelor. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan…..hehehe. Sebagai gantinya aku menawarkan pilihan untuk membuatkan program “Sukses UN Tanpa Stres”. Syaratnya gampang…..Mimpi, Doa, Sholat, Sedekah dan Follow the program step by step….walah emang emaknya ini lebay deh kalau urusan begini. Kesepakatan pun dibuat, dan pengertianpun mulai ditanamkam. “Kalau nggak mau stress, belajarnya dicicil ya”. Dan begitu proyek-ku selesai di bulan Desember maka akupun untuk sementara mengundurkan diri dulu dari hinggar bingar organisasi. Fokus untuk mulai menyusun strategi buat sulungku. UN masih di bulan Mei, artinya kami masih punya 4 bulan ke depan untuk menikmati proyek ini….hehehe.

Di 2 bulan pertama yaitu Januari-Februari  aku meminta dia untuk menyelesaikan sebanyak mungkin contoh soal-soal yang coba kurangkumkan dengan bantuan kisi-kisi dari pihak sekolah. Dengan pengolaha data statistic, mulailah terlihat peta kesulitan dia. Mulailah bantuan tutorial  aku berikan untuk menjelaskan materi-materi yang belum dia kuasai. Hal ini lebih meringkas waktuku daripada aku harus mengulang mengajar semua materi yang ternyata sudah dia kuasai. Wah jadi ngerasa ginikah rasanya jadi guru les …hehehe. Dan sebagai konsekwensinya maka aku harus meluangkan malam-malamku menjadi malam-malam penuh keasyikan mencari, mengevaluasi soal-soal sesuai dengan materi dan pola soalnya untuknya. Tidak lupa untuk komitment yang sudah dia berikan dalam menjalankan program bersama ini, kami memberikan reward kalau dia berhasil menyelesaikan materi sesuai dengan jadwal yang sudah kita sepakati. Yah reward bagi anak seumur dia masih tetap menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Rewardnya-pun nggak yang aneh-aneh, contohnya main sepatu roda di selasar kartini, atau beli es krim kesenangannya.

Dan sebagai hasil awal dari proyek ini. Aku mulai bisa merasakan beberapa hal yang positif. Dari pihakku aku sendiri jadi tidak ikut stress karena mulai bisa memahami kesulitan anakku dan mencoba membantunya. Nadia sulungku pun jadi nggak stress juga dan lebih percaya diri ketika dia sudah makin memahami materi yang diajarkan. bahkan dia jadi bisa menikmati mengerjakan soal-soal karena mengerjakannya sambil santai tanpa dikejar-kejar waktu yang sudah mepet dengan saat ujiannya. Alias no SKS (sistim kebut semalam).  Sebagai buktinya dia mau mengerjakan target penyelesaiannya di sela-sela dia menunggu-ku meeting, atau saat kami  menginap di rumah saudara, bahkan dia masih mau tekun mengerjakan sepanjang perjalanan salatiga – solo atau salatiga-semarang saat kami ada keperluan yang berhubungan dengan proyek pembangunan Graha Nugraha kami….Alhamdulillah. Semua itu dilakukan sambil masih sempat membantuku mengurus rumah, mengurus adiknya atau menikmati kegemarannya di dunia craft. Maka yang ada di benakku cuma harapan,  kalau dia bisa menikmati proses begini kemungkinan untuk materi-materi pelajarannya nyantol di memorinya khan bisa lebih besar. Amien

Namun perjuangan kami belum selesai sampai di sini. Satu demi satu tantangan ke depan masih harus dihadapi. Try Out ke 2 sudah akan dimulai di awal minggu depan, Tryout – Tryout berikutnya sudah menanti di bulan Maret dan April. Dan the Big Moment “Sang UN” masih harus dilalui di bulan Mei. Tapi bagi kami yang terpenting adalah bahwa proyek ini bisa menjadi salah satu proyek dari sekian banyak proyek pembentukan mental pada anak-anak kami. Belajar Bermimpi, Mengajarkan Proses mewujudkan Mimpi-Mimpinya, Meningkatkan Rasa Percaya Diri, Menanamkan Sikap Tawakal Dalam Arti Yang Sesungguhnya, Membentuk Sikap Ulet-Pantang Menyerah, Meningkatkan Kemampuan Problem Solving, Manajemen Waktu dan Kemampuan Menikmati Setiap Proses-lah yang sedang kami coba untuk tanamkan bagi pengembangan jiwa enterpreneurshipnya. Semoga Allah meridhoi upaya kami. Amien.

NB : Mohon doa untuk kesuksesannya melalui semuanya ya……Terima Kasih banyak.

Friday, December 14, 2012

Arti Sebuah Nama

Baru enak-enaknya ngebakso di kedai"Bakso Orang Malang", siulan burung tanda ada sms masuk terdengar. Di cek ternyata dari bundanya Mbak Salma teman Nadia. Tadi saat ngambil rapor di sekolah sih memang sudah ketemu dan beliaunya sudah tanya apa arti kata Naila. Aku yang memang hobi banget pelupa....cuma bisa menginggat-inggat kalau nama zafira dan naila itu memliki arti yang sama yaitu keberuntunga. Seingatku sih waktu itu kita berdua kasih nama dengan niat supaya kedua anak gadis kami selalu hidup dalam keberuntungan.

cari googling dan dapat link ini. www.melindahospital.com. Jadi pingin tahu sebenarnya nama kedua anak kami itu benernya apa sih menurut kamus global. Moga-moga aja sesuai dengan harapan kami saat kami memberikan nama pada detik-detik setelah kelahirannya.

Saat asyik-asyiknya mencari dan ngomong sendiri kalau nama ini artinya ini dan nama itu artinya itu. Jadilah Nadia malah ikut nimbrung karena pingin tahu nama dia tuh artinya apa....kali dia mau meyakinkan kalau ibunya ini bener-bener ngasih nama yang bagus artinya.....:). Dan begitu tahu kalau arti  salah satu namanya adalah Kesuksesan (sama dengan salah satu nama adiknya). jadilah dia tersenyum penuh kebahagian (mungkin dia merasa diperlakukan adil dalam doa ibunya)

Dan buat nginggat-nggingat supaya nggak lupa....kucantumkan di sini saja. Siapa tahu lain kali ada lagi yang menanyakan nama-nama ini :

Anisa
artinya Teman Penghibur, Lemah Lembut, Pekerjaan Yang Sempurna, Gadis/Wanita


Amira
artinya Berkata-kata, Putri Bangsawan, Ungkapan
 
Farida
artinya Unik, Kesempurnaan dan Kebaikan 


Fitri
artinya suci, Pemberian Dari Tuhan, Baik Sekali

Dian
artinya Cahaya, Pelita, Lampu Minyak


Nadia
artinya Awal, Harapan, Aktif dan Mudah Bergaul, Menebak Perasaan Orang Dengan Mudah, Praktis, Konservatif, Selalu Diberkati, Pengambil Keputusan, Berani, Keras Kepala, Seseorang Yang Menerima Panggilan Tuhan, Kebahagian, Kehormatan, Dibanggakan   

Naila 
artinya Kesuksesan

Nugroho
artinya Sehat, Rukun, Alamat Baik, Pemberian, Anugerah


Setyo
artinya Kesetiaan

Zafira
artinya Kemenangan, Kesuksesan


Semoga doa yang terucap dalam setiap penyebutan nama-nama penuh kebaikan ini dapat menjadikan kami sekeluarga menjadi manusia-manusia yang diharapkan dalam doa-doa tersebut. Amien.

Saturday, October 13, 2012

My Three Musketeers

“Ma….kepalaku kok pusing banget ya,” kalimat itu meluncur dari mulut suamiku saat pulang kerja.“Astagfirullah…………kenapa pak,” tanyaku sedikit galau tetapi berusaha belajar menahan diri untuk tidak bertanya yang terlalu mendetil. Karena aku sendiri merasakan nggak enaknya ditanyain gencar saat aku dalam kondisi menahan sakit. “Nggak tahu…………sejak tadi sore di kantor sudah nyut-nyut”. Wah langsug periksa kepala dan lehernya. Ehmmmmmmmmmmmm……hangat.  “Ok…sudah ya pak….hari ini bapak sudah nggak usah ribet menyelesaikan pekerjaan rumah yang terbengkalai gara-gara aku KO,” tegasku. “Toh pekerjaan rumah emang nggak akan ada selesainya. Entar sedikit demi sedikit aku akan bereskan. Saat fisikku sudah mendukung” Lanjutku tanpa mau dibantah. “Lah tapi khan mama masih lemes dan batuk gitu kok,” masku masih sedikit ngeyel. “Tenang aja nantikan akan ada malaikat yang membantuku,” jawabku guyon menenangkan dia  

Akhirmya Mas mau juga menurut. Selepas mandi air hangat dan sholat. Kami-pun harus meluncur mencari makan di pujasera karena hari ini aku sama sekali tidak masak apa-apa. Dan mengharapkan mas yang lagi sakit seperti itu untuk keluar sendiri mencari lauk tentu tidak memungkinkan, sedangkan kalau aku sendiri yang keluar dalam keadaaan masih lemas begini tentu bisa membahayakan bukan cuma diriku….bisa-bisa aku meleng nabrak orang lain. Yah akhirnya berempat kami keluar, makan di luar, beli obat dan pulang langsung pada bablas tidur karena nggak usah ada episode beres-beres dapur lagi…..hehehe. Dan tengah malam pertolongan Allah benar-benar datang, aku terbangun dengan tubuh yang lebih segar dari hari-hari kemarin, walau batukku masih ngekek terdengar nggak enak di kuping….hehehe. Energi-ku tiba-tiba muncul kembali setelah satu setengah minggu lemes dempes seperti pejuang yang habis kalah perang. Benar-benar tidak ada tenaga…..benar-benar hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya….walau aku sudah mengunakan cara mensuggesti diri bahwa aku sehat dan aku harus sehat karena tugasku masih banyak……Namun lemes dan batukku kelihatannya masih enggan meninggalkanku (atau mungkin keyakinanku untuk sembuh kurang ya …….entahlah). Yang jelas KO ini terlalu lama, dan bikin jengkel karena semua pekerjaan rumah harus dilakukan dengan pelan-pelan untuk menyisakan energi dan tugas-tugas lainnya-pun harus juga terkena imbasnya….ihik…ihik….ihik.

Tapi sungguh dalam kesulitan begitu, alhamdulillah ada lahan bagi kami berdua dan anak-anak untuk belajar menegaskan arti “BER-EMPATI”…………., selama aku drop, my three musketeers benar-benar menjaga dan membantuku dengan caranya sendiri-sendiri.



Mas yang full semangat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang biasanya menjadi hal yang biasanya kukerjakan. Berhubung aku tidak mampu terlalu banyak beraktifitas fisik seperti masak, mencuci baju, membersihkan rumah maka Mas dengan sigap akan mencarikan sarapan buat kami setiap pagi, nanti siangnya mencarikan lauk lagi yang bisa masuk ke tenggorokan dan perutku, dan malamnya sepulang kerja mencarikan lagi lauk yang sejenis dengan tadi siang (berkuah dan lembut). Selepas itu sepulang kerja Mas akan mulai sibuk membereskan rumah, dapur dan cucian yang mulai menjulang. Dan setiap bunyi yang tak sengaja dia hasilkan….benar-benar mengores ulu hatiku. Perasaan ini terasa sedih…..duh kenapa badan ini begitu lemas bagi melayang….hingga suamiku yang sudah lelah bekerja seharian masih harus menanggung beban pekerjaan yang seharusnya bisa kulakukan. Kerjaku hanya bisa duduk dan sesekali berdiri dengan lemas……….bahkan menerima beberapa tamupun kulakukan dengan memaksakan diri. Dan kali ini suamiku benar-benar tegas tidak memperbolehkan aku keluar rumah. Dimana sebelumnya nggak pernah hal tersebut harus beliau lakukan. “Mama harus sehat dulu, kalau perlu nanti aku yang mengerjakan PR-PR mama,” katanya tegas sambil mengoda-ku. (maklum kadang masih coba memaksakan diri duduk di depan kompi-demi PR yang serasa tak ada habis-habisnya…..hehehe). Duh…………kalau tidak menginggat perjuangannya menjadi suster selama aku sakit, pingin rasanya tubuh ini masih melompat ke sana-sini karena PR-ku masih banyak……..ihik….ihik….ihik.

Nadia sulungku pun membantu dengan menyelesaikan urusannya sendiri tanpa banyak bicara, dari menyetrika baju-baju perginya, mengerjakan PR-PRnya tanpa mengangguku yang lagi KO, memandikan adiknya setiap sore, mengajak adiknya bermain dan makan bersamanya, nggak rewel sama sekali dengan menu makanan non minyak yang lagi diterapkan, sebelum berangkat dan pulang sekolah bikinin mamanya teh hangat krn kali dia miris mendengar batuk mamanya yang nggak sembuh-sembuh….hehehe, siapin meja makan setiap kali kita akan mengunakan. bahkan kalau diminta untuk membuat sesuatu ataupun melakukan sesuatu dia jadi lebih sigap dari biasanya…..Thanks ya nduk.

Dan Naila the second (hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 3…subhanallah sudah bertambah besar anakku), membantu mamanya dengan berusaha menjadi anak yang baik banget (menurutku). Jadi Selama hanya kami berdua yang di rumah dari jam 8 sampai jam 4, jadi sekitar 8 jam sehari, maka dia akan beraktifitas di sekitar tempat tidurku. Dari bermain computer, nonton VCD, membaca (read : membaca dengan bahasaya sendiri sambil terkagum-kagum pada gambar-gambar di dalam bukunya), beraktivitas sendiri dengan mainan-mainannya (bisa bayangkan khan betapa berantakannya kamarku setiap hari). Dan yang pasti kalau biasanya aku menemani dia bobok siang maka kali ini dia yang menemani tidur siangku setiap habis minum obat….hehehe. Dan kalau sudah bosan biasanya dia akan keluar kamar dan menyanyi-nyanyi sendiri dengan suara kencangnya itu. Walau kadang berisik banget namun tingkahnya tetaplah menghiburku.  Dan yang bikin aku jadi tersedak terharu adalah saat-saat kalau mamanya sudah mulai kering kerongkongannya dan minta Naila untuk ambilkan air putih (karena di meja sudah habis), maka tubuhnya yang mungil akan terseok-seok membawa botol air minum ke dekatku, lalu mengambilkan gelas dari lemari dapur untukku. Dia juga jadi yang paling sering menginggatkan aku untuk meminum obatku dengan membawakan kantong obatku sambil bergumam “mama sakit……..mama sakit…………..minum obat…….minum obat.” Dan diapun menyodorkan obat-obat itu padaku. Duh nduk makasih banget ya. !!!

Terima Kasih tak terhingga buat My Three Musketers.......karena kehendak Allah SWT, lalu doa dari saudara-tetangga-teman-teman (makasih banget) dan semangat perjuangan kalian-lah my three musketeers, mama bisa berangsur-angsur sembuh. Dan yang pasti kalian membuat mama merasa dicintai, dirawat dan dijaga dalam proses kesembuhan mama.
Dan kini salah satu musketeer-ku jatuh sakit juga.  Dan aku bisa bayangkan kelelahan karena pekerjaan yang dia lakukan selama merawatku. Kini waktuku untuk merawat-nya. Dan entah keajaiban apa yang terjadi, begitu salah satu prajuritku jatuh sakit kok energiku menjadi berangsur-angsur kembali. Aku harus bangkit karena siapa lagi yang harus merawat mereka. Apalagi yang sakit ini Sang Jenderal – Sang Perwira Tinggi. Jadi ya Sang Perwira Menengah-pun harus maju jadi actingnya……hehehe. Siap Komandan !!!
Saya jadi teringat diskusi dengan salah satu teman yang pernah membahas mengenai ayat dalam surat Asy-Syarh 94: 5-6 …... Dan dia memakai konsep “Gelas Setengah Kosong Setengah Isi?” dalam memahami ayat tersebut.

Fa inna ma’al ‘usri yusron. Inna ma’al usri yusron
(Asy-Syarh 94 : 5-6)
 Artinya : Maka sesungguhnya, setelah (beserta, dibalik) kesulitan itu, ada (setelah mempelajarinya) kemudahan.

Jika kita berusaha  bisa melihat kesulitan dan kegagalan sebagai alat untuk mempelajari hal-hal yang menuntun kita memperoleh kemudahan , keberhasilan, dan kesuksesan. Itulah arti dibalik kesulitan ada kemudahan

- wallahu a’lam bissawab -

Jadi kepikiran :
Bayangkan berapa potensi yang bisa kumiliki untuk meraih kemudahan, seandainya aku memiliki kesanggupan untuk belajar dari setiap kesulitan yang aku alami.

Thursday, September 6, 2012

Naila & her first e-book from RazKids -- When is Nightime



Malam ini kami mulai mengaktifkan hadiah kompetisi “30 hari produktif bersama anak – edisi ramadhan 1433 h”. berupa langganan e-book raz-kids. Naila langsung senang banget ketika aku pilihkan salah satu buku yaitu “When it Nighttime?”. Karena selama ini dia juga doyan banget mengulang-ulang e-book yang berjudul “Pricess and the Pea” yang ada di hp-ku. Dan kejadian-pun berulang….dia minta dibacakan berulang-ulang bahkan tidak bosan-bosan ikut mengejanya. Dan aku menangkap moment yang bisa menjadi kenangan bagi kami. Langsung di rekam pakai hp dan diunduh ke youtube……

Sebulan lalu sudah beberapa kali aku minta bapaknya untuk mendownloadkan lagi beberapa cerita dari e-book supaya Naila punya variasi bacaan. Namun karena kesibukan, bapaknya belum sempat juga mencarikan. Dan sekarang istilahnya “Pucuk Dicinta Ulam Tiba”…..hehehe. Lewat hadiah dari Institut Ibu Profesional, Naila bisa menambah khazanah dunia bacanya. 30 hari berperang melawan diri sendiri agar kuat untuk konsisten berbuah manis. Terima Kasih Bunda Septi dan Institut Ibu Profesional…….semoga hadiah ini dapat kami maksimalkan manfaatnya.

http://www.youtube.com/watch?v=gUvn7WnMQSI 

Friday, July 20, 2012

Jelang Ramadhan....


Al Baqarah : 183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
 
Rabu kemarin Kuliah pertama Institut Ibu Profesional setelah hampir satu bulan penuh para ibu berlibur bersama anak-anak yang lagi liburan sekolah. Bunda Septi sendiri juga baru saja kembali dari Iran setelah menghadiri konferensi wanita muslim sedunia di sana selama 8 hari. Dan sebagai oleh-oleh kami mendapatkan kisah dari negeri 1001 malam selama setengah dari jam materi belajar hari ini. Asyik sekali menimba ilmu dari pengalaman beliau menyelami kehidupan bangsa Iran....janjinya beliau akan menuliskan pengalaman di web ibuprofesional.com. Dan banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari kehidupan bangsa Iran. InsyaAllah pingin menjalankan hal-hal yang baik dari bangsa mereka.

Dan Jum'at ini sebuah "Agenda Ramadhan" dari Bunda Septi menjadi hadiah bagi kami untuk mempersiapkan Ramadhan kali ini agar menjadi Ramadhan yang lebih bermutu hasilnya daripada tahun-tahun sebelumnya. InsyaAllah...........Harapan-ku Ramadhan kali ini semoga benar-benar bisa menjadi kawah candradimuka kami sekeluarga sehingga mampu meningkatkan diri kami menjadi perempuan dan lelaki yang berkualitas tidak hanya secara lahir namun juga batin. Amien.

Setengah dari materi belajar Rabu kemarin adalah tentang "Agenda Persiapan Menjelang Ramadhan" yang sesungguhnya mempunyai proporsi lumayan penting agar kita bisa mengisi ramadhan semaksimal mungkin tidak hanya dengan menjalankan ibadah puasanya saja tetapi juga ibadah-ibadah lainnya dengan baik. Agenda Ramadhan dari Institut Ibu Profesional yang bisa di download di www.ibuprofesional.com pastilah akan mengisi hari-hari Ramadhan kami. Selain itu aku juga menyempatkan diri untuk mengecek buku Kegiatan Ramadhan Nadia dari sekolahnya. Jadi hari ini kita cepet-cepetan menandai check list semua materi ini bersama-sama.

 

Dan hasil check list kita jadi begini :

Untuk kegiatan "Ikut Kegiatan Kajian Jelang Ramadhan", kami berdua sudah pada ikut beberapa hari yang lalu. Salah satu fungsinya adalah untuk menginggatkan kembali akan makna dan hakekat dari Puasa Ramadhan yang akan kita lakukan. Nadia mendapatkan banyak masukan dari liqo-nya sedangkan emaknya mendapatkan banyak masukan dari Kuliah-Ramadhan di Institut Ibu Profesional rabu kemarin. Sehingga seakan-akan kita udah di charge lagi untuk berusaha semaksimal mungkin membuat rencana dan meng-ekskusi-nya nanti......

Untuk Kegiatan "Bersih Diri" wah pasti tidak mau ketinggalan. Nadia bahkan tanya :"ma, apa perlu rambutku dipotong juga?....". "Nggak harus kak, cukup dirapikan saja, khan rambut kakak tidak semrawut.....:). Yang penting potong kuku, trus setiap habis makan kita gosok gigi. Mandi nggak pernah lupa minimal 2 kali. Trus kalau bisa menjaga kondisi wudhu kita....InsyaAllah itu cukup.

Giliran niat mau ikut kerja bakti membersihkan Tempat Ibadah, ternyata para pemuda di kampung kami sudah melakukan bersih-bersih sejak kemarin. Emang sih masjid Al Fitroh di belakang rumah kami sudah tambah kinclong sekarang karena tidak cuma dibersihkan biasa tetapi juga di cat dengan warna hijau ngejreng cerah dan kombinasi cat putih untuk kusen-kusen pintu dan jendelanya.....Jadi tambah cantik dan siap menyambut jamaah sholat dan tadarusan.....

Untuk partisipasi dalam Tarhib Ramadhan, kemarin khan sudah gotong royong sama Nadia buat bikin poster-poster menyambut Ramadhan, untuk dibawa Nadia saat pawai. Trus Nadia juga ikut tampil dalam lomba menyambut ramadhan walaupun tidak berhasil memperoleh juara. Dan "Puitisasi Terjemahan Al Qur'an" 5 sekawan akhirnya ditampilkan kembali di acara menyambut ramadhan di sekolahnya Rabu kemarin. Alhamdulillah.  

Jam 12 lebih  setelah semua urusan lain selesai, mulai deh kerja bakti bersih-bersih rumah. Dimulai dari teras yang se-uprit dan jalanan depan teras. Maklum khan ngontrak rumahnya di kampung yang nggak memungkinkan ada halaman luas. Tapi begitu-pun aku masih membutuhkan setengah jam untuk membersihkan gulma yang pada mencuat dari sela-sela trotoar di depan rumahku. Nah sekarang lumayan rapi..... 
Bersihin plafon rumah yang sudah mulai digelantungi sarang laba-laba. Menata ulang ruang-ruang biar kelihatan lega. Dan sampai pukul 3. Ternyata baru 1/3 ruangan rumah yang bisa teratasi...........lanjut setelah sholat Ashar ya. Dan jam 5, ternyata masih 2/3 rumah yang selesai dibersihkan.....Jadi mikir rumah ini kebesaran atau tumpukan clutternya yang terlalu banyak? Yah ndak papa wis....nanti selepas tadarusan aku bisa lanjutkan bagian yang 1/3 lagi. Tinggal ruang dapur, ruang makan dan ruang pakaian. Emang cuma 3 ruangan tapi tumpukan kerdus persiapan pindahan mulai menjulang....hehehe.

Session terakhir adalah session saling meminta maaf. Jadi session terakhir karena nunggu ayah yang pulangnya emang selepas jam 6. Dan acara saling meminta maaf-pun diselingi dengan tangisan naila.....bukan karena terharu tetapi karena keinginannya mau nonton vcd anak-anak kita tolak. Lah soalnya begitu dia lihat filmnya jadi nggak konsen sama emak-bapaknya yang sudah siap-siap dimintain maaf dan meminta maaf pada anak-anaknya. Kemudia selepas taraweh kita langsung menelpon para orang tua di Wonogiri dan Surabaya.....Nah sesion ini jelas membengkakkan tagihan pulsa kami karena ternyata bapak Surabaya dan Ibu Wonogiri pingin bercerita banyak begitu kami sudah meminta maaf dan minta "pangestu".....hehehe...dan maklum sebagai anak di parantauan kami-pun merasakan hal yang sama, jadi kerasa banget rindu nya kami bisa ngobrol bersama beliau-beliau. Apalagi bapakku adalah best friend bagiku dan hampir tidak ada rahasia diantara kita....hehehe. 



Selepas telepon-telepon-an dengan ortu...kita berdua (mas dan aku) malah terlibat diskusi yang panjang.........sampai tak terasa sudah jam 11 lebih.....wah langsung ditutup dulu deh aktifitasnya karena jam 2 nanti aku sudah harus mulai hidup lagi untuk menyiapkan sahur pertama kami................Bismillah.