Keputusan menghentikan sebagian
aktifitasku untuk fokus pada perkembangan putri-putriku akhirnya berbuah hasil
juga. Hari ini, di papan pengumuman sekolah terpampang hasi Try Out UN pertama
SDIT Nidaul Hikmah dengan nama Nadia (nama anak pertamaku), di urutan pertama.
Nilai total 26 berhasil di raihnya, 9 untuk bahasa Indonesia, 9 untuk Matematika dan 8 untuk
IPA. Mungkin bagi orang tua lain itu hal ini hanyalah urusan biasa, toh nilai
memang tidak menentukan segalanya. Tetapi bagi-ku proyek kecil bersama anakku
ini menjadi begitu berarti kalau menginggat perjuangan gigih dia mencoba mewujudkan
salah satu mimpinya. Tanpa terasa ada sedikit linangan air mata yang tergenang di
ujung mataku. Selamat ya nduk….perjuangan kita baru saja dimulai.Tuesday, February 26, 2013
Perjuangan Itu Tidak Instan…….
Keputusan menghentikan sebagian
aktifitasku untuk fokus pada perkembangan putri-putriku akhirnya berbuah hasil
juga. Hari ini, di papan pengumuman sekolah terpampang hasi Try Out UN pertama
SDIT Nidaul Hikmah dengan nama Nadia (nama anak pertamaku), di urutan pertama.
Nilai total 26 berhasil di raihnya, 9 untuk bahasa Indonesia, 9 untuk Matematika dan 8 untuk
IPA. Mungkin bagi orang tua lain itu hal ini hanyalah urusan biasa, toh nilai
memang tidak menentukan segalanya. Tetapi bagi-ku proyek kecil bersama anakku
ini menjadi begitu berarti kalau menginggat perjuangan gigih dia mencoba mewujudkan
salah satu mimpinya. Tanpa terasa ada sedikit linangan air mata yang tergenang di
ujung mataku. Selamat ya nduk….perjuangan kita baru saja dimulai.Friday, June 29, 2012
Nadia's 3rd Grade Journal
Benda kesayanganku adalah keyboard yang kubeli di Australia. Keyboard adalah benda semacam piano tapi pakai kabel. Aku suka memainkannya. Di dalam keyboard itu banyak lagunya, seperti Twinkle-twinkle Little Star, Barbie Swan Lake (maksudnya soundtrack film Barbie Swan Lake, Barbie Nut Cracker dan yang lainnya. Tapi judul lagu-lagunya itu semuanya berbahasa inggris karena belinya di Autraslia. Adikku suka mendengarkan lagu-lagunya. Keyboard itu juga ada lampunya, untuk latihan. Contohnya seperti ini, pilih lagu yang mau kamu dimainkan, setelah itu pencet nomor lagu itu. Misalnya nomor 13, pencet nomor 1, habis itu 3 dan pencet tombol step 1 untuk memainkan lagunya. Setelah itu keluar lampu merah di keyboardnya dan kita tinggal memencetnya untuk memainkannya. Nama keyboard itu adalah Lighting Keyboard. Piano itu disebut Lighting Keyboard karena keyboardnya mengeluarkan lampu. Di rumah pagi-pagi biasanya aku menyalakan keyboard ku dan memainkannya. adikku dan mamaku suka mendengarkannya Wednesday, June 17, 2009
Ikut IT Kids Fiesta 2006

Ini untungnya punya bapak kerja dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia IT. Begitu dapat info mengenai adanya lomba IT Kids Fiesta 2006, langsung deh bapaknya mendaftarkan anak semata wayang-nya yang saat itu kelihatannya demen banget main berbagai game di komputer....sekalian kita juga pingin tahu sampai seberapa mental kompetisi yang tumbuh pada diri si kecil. Maklum kami memang jarang mengikutkan dia dalam kompetisi-kompetisi. Lomba ini sendiri merupakan kegiatan lanjutan yang diselenggarakan oleh PT Bangun Satya Wacana Gramedia yang dilakukan guna ikut meningkatkan kualitas SDM di bidang ICT bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kalau sejak diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2004 kegiatan ini diberi nama "Smartschool Fiesta" maka sejak tahun 2006 nama kegiatan diubah menjadi "IT Kids Fiesta" dengan "IT Camp" sebagai puncaknya. Lomba ini sendiri babak penyisihannya digelar di 10 kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bogor, Medan, Lampung Palembang dan Balikpapan.
Nah siang itu, kami terpaksa meminta ijin kepada guru kelas Nadia untuk mengikuti acar lomba tersebut. Alhamdulillah guru-guru Nadia malah mendukung. Nadi berangkat ke tempat lomba tanpa berganti pakaian seragam maklum takut telat....untung sudah di daftar ulangkan dulu sama bapaknya sehingga dia langsung bisa mendapat kaos peserta.
Alhamdulillah selama menunggu giliran lomba dia sama sekali tidak rewel dan kelihatannya siap tempur...he...he...menambah keyakinan ortunya bahwa anaknya paling tidak masih punya mental kompetisi. Ketika tiba giliran dia masuk ruangan [ortu nggak boleh ikut nih] ternyata dia cuek aja dan gampang banget diarahkan oleh panitia untuk menempati tempatnya. Malah kami yang ortu harap-harap cemas dia ngerti nggak ya maksud instruksi yang diberikan oleh panitiannya.
Sambil sesekali kami mengambil foto dia yang sudah berada di dalam ruangan. Deng.....begitu lomba dimulai di grupnya....ternyata dia sudah asyik mencet-mencet tuts-nya dan tampil sebagi yang pertama selesai di grupnya. Duh senengnya diriku sebagai ortu dan berharap bahwa dia bisa menboyong piala pulang ke rumah.Sambil berharap-harap cemas kita menunggu pengumuman. Dan hasilnya sedikit kecewa karena waktu selesai Nadia mengerjakan puzzle ternyata masih kalah dari pemenang grup lainnya. Yah belum rejekinya nduk....tapi emak bangga kok bahwa Nadia sudah berani tampil berkompetisi.....:-D. Dan emaknya harus dengan sabar memberi pengertian ke dia kalau kalah bukan berarti dia nggak bagus, tapi ada anak lain yang lebih cepat lagi mengerjakan puzzle tersebut....dan mereka bisa lebih cepat mungkin karena mereka lebih rajin lagi latihan menyelesaikan soal-soal puzzle tersebut.
Informasi hasil final "IT Camp" di Jakarta ternyata mengukuhkan Balikpapan sebagai salah satu kota yang patut diperhitungkan. Alhamdulillah untuk tingkat SD...SD Patra Darma meraih juara pertama. Sedangkan untuk tingkat SMP.....SMP Nasional KPS [di bawah Yayasan KPS -tempat emak bekerja saat itu] berhasil meraih juara ke 3 di bawah bimbingan Pak Suradi Masikki. Selamat ya Pak...

We Came in as Caterpillars and are leaving as Butterflies

Pagi itu Nadia sudah siap didadani dengan tempelan ikan-ikanan hasil kreasi emaknya setelah seminggu sebelumnya emaknya pusing tujuh keliling...bingung mau bikin apa ketika surat dari sekolah nyampe di tangannya. Surat itu berisi permohonan untuk mensupport acara wisuda pertama TKIT Mardhatillah dengan membuatkan Nadia hiasan untuk tampil di panggung dengan tema Ikan....Jadi lah beberapa hari sebelum hari H emaknya sudah mikir- mikir mau bikin hiasan ikan....Tapi seperti apa ya? Kalau Om Helmi-mu yang seniman itu pasti langsung dapat ide nduk tapi emak-mu yang gambar ayam aja nggak bisa harus super mikir nih mau bikin apa. Ya udah hal yang penting pertama adalah cari kardus bekas-nya dulu. Alhamdulillah ketika berbelanja di sebuah toko....ternyata pemiliknya baikan mau nagsih kardus bekas packing. Aman deh. Pekerjaan selanjutnya cari referensi gambar ikan di buku-buku Nadia.....dapatlah gambar ikan yang cukup gendut....Jenis ikan apa ya ini? Sepertinya mirip-mirip "Ikan Dorang"...he...he..he...Lalu dimulailah acara "Gunting dan Jahit jadilah Gaun......hi..hi...hi..." emang tikusnya Cinderalla. Beli kertas hias yang ada gradasi warnanya aja biar lebih meriah dan sekali tempel bisa banyak warnanya....jadi nggak perlu nempelin satu-persatu sisiknya, maklum emaknya sok sibuk urusan kantor saat itu. Dan biar tambah meriah lagi.... emak bikinkan mahkota dan gelang-nya sekalian. Untuk talinya....ublek-ublek lagi benang-benang di laci jahitan (berhubung nggak pernah njahit jadi benangnya masih punya stock banyak....:-D). Wolalah....jadilah "Fish Princess" yang siap manggung di acara perpisahan kakak kelasnya.Dan Berangkatnya kita pagi-pagi [padahal biasanya kita sering terlambat]....alhamdulillah ternyata sampai di sekolah masih sepi, jadi kita bisa foto2 dulu di atas panggung. Hitung-hitung buat menginggatkan dia akan masa-masa TK-nya dulu.

Perpisahan siswa TKIT Mardhatillah angkatan pertama ini mengambil tema "We came in as Caterpillars and are leaving as Butterflies". Panggungnya ditata cantik dari tangan-tangan penuh kasih para bapak-ibu guru dan staf sekolah. Sebagian menggunakan bahan daur ulang alias bahan bekas. seperti koran-koran bekas yang digunakan untuk merenda panggung plus bendera yang digantung di langit-langit.
Anak-anak TK-pun masuk ke dalam Gedung Serba Guna dengan tertib lalu duduk dengan rapi menghadap panggung. Tak berapa lama acarapun dimulai, dari mulai pembukaan, sambutan sampai akhirnya acara yang pastinya ditunggu-tunggu yaitu penampilan anak-anak. Penampilan pertama dibawakan oleh kelas PG yang tentu saja tidak mau ketinggalan ikut nyumbang suara di acara tersebut.
Lalu dilanjutkan kelas TK-Kecil Nadia pun yang ampil dengan ikan-ikan yang bergelantungan di depan dada mereka....it's cool....Lalu kelas lainnya pun menyumbangkan performance dengan tema Kupu-Kupu. Duh cantik2-nya hasil karya para ortu...ortupun bisa berkarya demi sang buah hati.....:-D. Tiba giliran kelas selanjutnya dengan sebuah sandiwara tentang "Caterpillars become Butterflies"-nya.
Setelah selesai semua penampilan anak-anak acara-pun dilanjutkan dengan Graduation yang hanya boleh dihadiri oleh peserta dan orang tuanya. Nah karena Nadia belum termasuk anggota yang diwisuda jadi kita harus juga terusir dari arena.....:-D. Aku hanya sempat nonton para sarjana kecil berbaris rapi memakai pakaian wisuda-nya lalu kita harus segera keluar ruangan karena takut nanti menggangu kekhikdmatan acara tersebut.Anyway....Nadia kelihatan sangat menikmati acara tersebut, apalagi ketika dia boleh mencoba-coba dandanan teman-temannya plus bisa nandanin emaknya.
Tuesday, May 5, 2009
Sahabat Wanita
Bayangan masa SD-ku kabur saat ini....puzzle yang kucoba untuk susun masih terserak tak beraturan. Jumping aja ke masa-masa SMP.....
SMP....saat usiaku menginjak ABG. Aku, Yuni dan Kunti...hanyalah anak-anak yang lebih fokus untuk mencapai hasil tertinggi pada pelajaran daripada memikirkan seorang cowok idaman. Kami jelas tidak pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai cowok. Yang ada di otak kami hanyalah pelajaran...pelajaran dan pelajaran. Saat SMP pulalah aku menjadi dekat dengan 2 sahabat cowok-ku. Indra dan Tony. Mereka berdua banyak membantu-ku terutama dalam menghadapi pelajaran yang paling tidak kumengerti yaitu Matematika dan Fisika. Padahal awalnya aku sangat sebel banget terutama sama Tony yang selalu iseng cari perkara dengan-ku dan Yuni....:)).
Memasuki usia SMA...aku memiliki teman-teman dekat yaitu Dina dan Nora.....dua gadis yang akhirnya berbalik membenci-ku karena aku dianggap menodai persahabatan kami dengan membuka rahasia kami yang waktu itu kuanggap sebagai upayaku untuk menolong mereka....:)). Salah satu pelajaran yang tertancap di benak-ku adalah bahwa setiap orang dapat memiliki sudut padang yang berbeda terhadap suatu masalah.....aku terlalu lugu untuk berperang melawan hal-hal yang bersifat psikologis.......dan aku kalah saat itu. I am the loser.
Masa kuliah-pun kujalani dengan memiliki dua sahabat yang berbeda karakter....Ari dan Peni. Kalau Ari meledak-ledak maka Peni menjadi Penenang diantara kita. Beruntunglah aku bahwa kami sampai saat ini masih sering melakukan kontak karena Peni aktif di dunia maya sedangkan Ari malah menjadi tetangga kakakku sendiri.....:))
Memasuki masa-masa bekerja, kembali aku memiliki sahabat-sahabat yang jujur mengatakan kebenaran padaku.....Mbak Wiwin dan Mbak Petris (teman-teman sebarak)....dua-duanya terpaut jauh usia denganku, namun entah mengapa aku merasa cocok saja dengan mereka. Hingga akhirnya kami mulai disibukan oleh urusan rumah tangga masing-masing dan aku mulai memiliki sahabat yang lain lagi yaitu Mbak Yulia dan Mbak Dewi.....kami menjadi semakin dekat karena kegiatan kami yang sama yaitu mencoba mendalami agama lebih dalam....
Selepas itu aku mulai mengembara sendiri bersahabat dengan satu-satunya orang yang palig dekat denganku yaitu suami-ku. Dia menjadi penginggat-ku kalau aku melakukan kesalahan.....dan kalau aku mengeluh mengenai rasa kehilangan yang sangat akan sahabat-sahabatku. Dia selalu mejawab...."Tidak cukupkah aku menjadi pengganti sahabat-sahabat-mu?".....Duh kalau udah gini susah njelasinnya.....tetap ada yang berbeda my dear.....walaupun aku selalu berusaha terbuka padamu.....tetapi selalu mengertikah dirimu akan persoalan-persoalan hati wanita.......:)). Aku masih tetap membutuhkan sahabat-sahabat wanitaku tanpa berusaha mengecilkan arti dirimu......:-D
Sebuah kata-kata yang menghiburku dikala aku belum lagi menemukan seorang Sahabat Wanita-ku.
"Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu"
Monday, April 20, 2009
Mengapa Ku Berkerudung
Aku ingat berkerudung sejak aku memasuki kelas 2 SMA, bukan karena aku patah hati ataupun karena bapak atau ibuku memaksaku menggunakannya. Samar-samar aku menginggat peristiwa yang menyebabkan aku berkerudung....kalau tidak salah saat itu aku terguggah oleh kata-kata seorang mentor saat mengikuti Pondok Ramadhan....Intinya adalah "Sebegitu yakinnya dirimu bahwa kamu akan hidup lama di dunia ini....sehingga kamu bermain-main dengan ayat-ayat Allah", saat itu kalau tidak salah beliaunya membahas mengenai jilbab dalam islam........Nah seorang anak SMA diajak ngomong dengan bahasa yang kayak gitu, langsung deh deg hatiku. Iya...yah....sok yakin amat aku bakal hidup lama sehingga walaupun aku sedikit-sedikit mulai mencoba memahami agamaku kok nggak nyadar-nyadar buat langsung mempaktekkannya....
Akhirnya selepas liburan, aku mulai mengunakan kerudung walau masih belum sempurna....namun karena aku bersekolah di sekolah negeri dan sekolah saat itu belum mengijinkan pemakaian kerudung si saat jam sekolah. Yah akhirnya aku masih pakai kerudung buka tutup. Artinya saat berangkat ke sekolah hingga nyampe kelas di pagi hari aku mengunakannya namun selama berada di lingkungan sekolah aku harus membukanya....entar kalau pulang lagi baru pakai lagi. Aenh bin Ajaib bukan kayak main-main aja....tapi kalau ini nggak dipatuhi maka surat panggilan BP akan selalu setia melayang di meja......peraturan oh peraturan.
Komunitas Sie Kerohanian Islam dimana aku bergabung saat itu belum mampu berbicara keras mengenai hal ini. Bahkan penggunaan baju lengan panjang dan rok panjang aja weleh menjadi masalah....setiap ketemu guru BP pasti ditanyain.....lama-lama karena bosan....ya aku ganti pakai sweater dan bilang bahwa aku nggak enak badan......bohong sih....khan nggak setiap hari aku nggak enak badan.....cuma malas berdebat aja........................ Dulu aku hampir jadi atlet softball SMA-ku bahkan sudah pernah masuk menjadi Tim Jatim Yunior, namun karena berjilbab akhirnya aku harus mundur....walau begitu hoby-ku melihat permainan ini tidak pernah luntur...... cuma jatahnya saat ini menjadi penikmat bukan pemain.....:-D. Aktivitas organisasi lain masih jalan....ikut SKI, kalau nggak salah aktif juga di Badan Perwakila Siswa, ikut ekskul non prestasi seperti badminton, basket, tenis....no problem semuanya.....ya orang aja yang hoby-nya membesar-besarkan masalah.
selepas SMA, masuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, masih mengunakan kerudung, dan masih juga hobby menyibukkan diri ikut organisasi seperti Badan Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, lumayan juga mendapatkan beasiswa dari institusi selama 2 periode kalau nggak salah, ikut Ju-Jitsu (alasannya hanya karena dia cabang olah raga yang boleh menutup seluruh aurat, Ikut Sie Kerohanian Islam juga. Ya indah masa-masa itu. Enaknya kalau sudah Mahasiswa....kita bebas mau pakai jilbab atau nggak.....ini benar-benar pilihan pribadi udah nggak usah main petak umpet lagi ama guru BP...he...he...
Selesai kulian dengan IP lumayan.....nggak juga gampang dapat pekerjaan. Alasannya jaman itu masih susah kantor yang mau menerima personel berjilbab. Sedangkan jiwa wirausahaku sendiri juga belum terasah, jadilah aku terkantung-kantung sebagai pengangguran selama hampir 1 tahun kalau nggak salah. Sampai pekerjaan apapun kulakukan seperti menjadi pegawai gudang di sebuah perusahaan catering. Inipu karena kebaikan teman. Tetapi ternyata Allah mengatur jalan hidupku berbeda.....seorang tetangga kemudian mengajakku untuk hijrah ke Balikpapan untuk membantu Sekolah yang beliau dirikan di sana. Dan akupu ditampung oleh keluarga tersebut selama lebih kurang 6 bulan. Mereka adalah keluarga yang sangat berjasa dalam proses perjalanan hidupku.
Tak berapa lama kemudian sebuah perusahan pertambanga membuka lowongan...tidak ada harapan yang muluk-muluk aku mencoba melamar...dgn masih berpikir mana ada perusahaan asing yang mau menerima karyawan berjilbab seperti aku ini. Ternyata aku diterima.....aneh ya di saat bangsa kita yang mayoritas muslim masih mempertahankan keangkuhannya untuk menentang pemakaian jilbab di kantor2, ini perusahaan asing malah welcome menerima kita.....yang mereka lihat bukan penampilan lu jeh....tapi isi otak lu......he...he....
Kisah hidup-ku akan ku-kenang selalu sebagai pelajaran dalam menyikapi perbedaan prinsip yang akan selalu ada sepanjang sisa hidupku. Dan artikel di bawah ini membantuku untuk tetap memperkokoh lagi pemahamanku dan prinsip hidupku.....semoga Allah SWT selalu membuka pintu hatiku untuk menerima cahaya kebenaran. Amien
Mengapa Saya Menggunakan Kerudung
Oleh Yvonne Ridley
(mualaf Inggris eks tahanan Taliban)
Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan dengan persaudaraan feminisme Barat. Politisi dan jurnalis senang mengangkat isu tertindasnya perempuan di dalam Islam tanpa pernah mengajak berbicara para perempuan berkerudung itu sendiri. Mereka sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana wanita muslim terlindungi dan dihormati dalam Islam yang telah berlangsung selama lebih dari 1400 tahun yang lalu.
Namun dengan mengupas isu budaya seperti mempelai anak-anak, penyunatan anak perempuan, pembunuhan demi kehormatan dan perkawinan paksa, mereka pikir mereka berbicara dengan ilmu.Dan saya juga muak dengan dicontohkannya praktik di Saudi sebagai contoh bagaimana wanita ditekan hak-haknya seperti larangan mengemudi di negara tersebut.Hal-hal diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam, namun itu semua menjadi sasaran empuk untuk memojokkan Islam dengan bergaya sok tahu. Padahal sangatlah naif untuk mencampuradukkan budaya dengan Islam.
Saya pernah diminta untuk menulis bagaimana Islam membolehkan suami untuk menghajar isterinya. Enak saja, tidak benar itu. Kalangan pengkritik Islam tentu akan dengan senang mengutip ayat-ayat Al Quran atau Hadith secara serampangan dan di luar konteks. Apabila seorang suami akan menaikkan tangannya terhadap isterinya, ia dilarang untuk meninggalkan bekas pukulan di tubuh isterinya. Dengan kata lain, Quran sebenarnya berkata,” Jangan kau hajar isterimu, Hai Bodoh.” Nah mari kita lihat statistik yang menarik. Hmm, saya mulai mendengar kata-kata sumpah serapah. Menurut, informasi Kekerasan Rumah Tangga Nasional (Amerika Serikat), 4 juta wanita mengalami kekerasan oleh pasangannya selama rata-rata 12 bulan. Tidak kurang dari 3 wanita dibunuh oleh suami atau pacarnya setiap hari… yang berarti sekitar 5500 wanita yang dihajar hingga mati sejak peristiwa 9/11. Mungkin ada yang bilang bahwa fakta tersebut adalah suatu kenyataan yang mencengangkan yang bisa terjadi di masyarakat yang konon beradab. Namun sebelum saya berkata lebih jauh, saya perlu katakan bahwa kekerasan terhadap wanita adalah masalah global. Pria yang melakukan kekerasan pun memiliki latar belakang yang beragam dari segi agama maupun budaya. Kenyataan menunjukkan bahwa satu dari tiga wanita di dunia merupakan korban kekerasan dan pelecehan seksual semasa hidupnya. Kekerasan terhadap wanita bukan monopoli agama, status, kekayaan, warna kulit ataupun budaya tertentu.
Namun demikian, ketika Islam pertama kali muncul, wanita merupakan obyek yang diperlakukan secara tidak semestinya. Bahkan di Barat, para wanita pun masih menghadapi masalah karena para pria yang masih berpikir memiliki superioritas. Ini terlihat dari jenjang promosi dan struktur upah yang terlihat dari tipe pekerja pembersih biasa hingga pemburu karir di tingkat direksi atau manajemen. Wanita di Barat pun masih diperlakukan sebagai komoditas dimana perbudakan seksual mengalami peningkatan, dengan dalih sebagai upaya pemasaran dimana tubuh wanita menjadi aset penjualan produk dalam dunia periklanan. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ini terjadi di dalam masyarakat dimana perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan adalah hal yang lumrah. Di dalam masyarakat ini pula terjadi ilusi persamaan antara pria dan wanita dan tingkat pengaruh seorang wanita di dalam masyarakat tersebut diukur dari besaran payudara yang ia miliki.
Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan dengan persaudaraan feminisme Barat. Pandangan saya berubah sejak pengalaman yang saya lalui ketika ditahan oleh Taliban karena menyelundup ke Afghanistan dengan mengenakan burkha di bulan September 2001. Selama 10-hari dalam kurungan, saya membuat perjanjian dengan mereka bahwa saya akan membaca Al Quran dan mempelajari Islam kalau mereka akan membiarkan saya pergi. Aneh tapi nyata, mereka pun menerima tawaran saya dan saya pun dibebaskan. Ketika saya kembali dari sana saya pun memegang janji saya. Sebagai jurnalis yang meliput peristiwa di Timur Tengah, saya pun menyadari untuk belajar lebih banyak tentang suatu agama yang jelas-jelas juga menjadi suatu pandangan hidup bagi masyarakat di sana.
Tidak, saya bukan korban Sindrom Stockholm. Untuk menjadi korban sindrom ini, anda harus memiliki hubungan yang baik dan erat dengan mereka yang menahan anda. Ini tidak terjadi dengan saya. Selama saya dikurung, saya sumpah serapahi mereka menolak makanan yang mereka tawarkan dan melakukan mogok makan. Saya tidak tahu siapa yang lebih senang ketika saya akhirnya dibebaskan — mereka atau saya!
Awalnya, saya pikir membaca Quran tidak akan lebih dari sekedar kegiatan akademis. Namun saya benar-benar terhenyak ketika saya temukan secara gamblang bahwa wanita memiliki kesamaan spiritual, pendidikan dan harga diri. Hadiah bagi seorang wanita ketika ia melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka benar-benar mendapatkan pengakuan yang tulus. Wanita muslim pun bangga untuk menyatakan bahwa mereka adalah ibu rumah tangga. Di samping itu, Nabi Muhammad SAW pun menyatakan bahwa wanita yang terpenting dalam keluarga adalah seorang Ibu, Ibu, dan Ibu. Nabi juga berkata bahwa surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Bayangkan, berapa banyak wanita yang mampu mencapai 100 peringkat wanita paling berpengaruh hanya dengan predikat ‘Ibu Terbaik’? Ketika seorang wanita secara Islam memilih dengan sadar untuk tetap tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak merupakan suatu bentuk baru dari harga diri dan kehormatan di mata saya. Pilihan tersebut sama sekali tidak lebih rendah dibanding dengan para wanita muslim lainnya yang memilih untuk bekerja, berkarir dan mengembangkan profesi mereka.
Saya pun mulai mencermati hal-hal seperti hukum warisan, pajak, kepemilikan harta dan perceraian, yang semuanya mungkin bisa menjadi inspirasi bagi para pengacara Holywood. Misalnya, wanita berhak mempertahankan apa yang telah mereka raih dan miliki sedangkan para suaminya harus menyerahkan separuh dari nilai yang ia miliki. Agak lucu bukan kedengarannya ketika para media tabloid dengan heboh meliput berita aktris bintang film yang melakukan perjanjian pra nikah? Padahal para wanita muslim sudah menjalankan perjanjian bahkan sejak hari pertama. Mereka bisa memilih untuk bekerja atau tidak, dan semua penghasilan yang ia dapati dari pekerjaannya adalah miliknya, sedangkan suaminya harus membayar semua kebutuhan, tagihan dan belanja keluarga. Apa-apa yang mereka para feminis perjuangkan di tahun 70an, ternyata sudah dinikmati oleh para wanita muslim 1400 tahun yang lalu.
Sebagaimana saya terangkan tadi, Islam menghormati status Ibu dan Istri. Apabila anda memilih untuk tetap tinggal di rumah, maka silakan untuk tetap tinggal di rumah. Adalah suatu bentuk kehormatan yang luar biasa nilainya untuk menjadi pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak. Di saat yang sama, Quran juga menyatakan kalau anda ingin bekerja, maka bekerjalah. Jadilah wanita karir, kembangkan profesi dan jadilah politisi. Jadilah menjadi sosok apapun yang anda inginkan dan jadilah yang terbaik, karena apapun yang anda akan kerjakan diniati untuk menggapai ridhaNya.
Saat ini ada kecenderungan yang berlebihan untuk menfokuskan pada masalah pakaian wanita muslim terutama oleh para pria (baik muslim dan non-muslim). Memang benar bahwa wanita muslimah wajib untuk berpakaian sopan, tetapi banyak sekali masalah lain yang wanita muslim hadapi saat ini. Namun demikian, semua orang masih terobsesi dengan isu kerudung atau hijab. Begini, hijab ini adalah busana resmiku, dan dengan ini saya nyatakan bahwa saya adalah seorang muslim dan saya harap anda perlakukan saya dengan hormat. Bisakah anda bayangkan bagi seseorang untuk memberitahu eksekutif Wall Street atau bankir Washington untuk mengenakan kaos t-shirt dan celana blue jeans? Dia tentu akan menyatakan bahwa busana resmi yang ia kenakan adalah yang mendefinisikan dia selama jam kerja dan secara tidak langsung ia nyatakan kepada dunia untuk mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya. Anehnya, di Inggris, kita dengar ucapan Menlu Jack Straw tentang nikab (penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata) sebagai penghalang yang tidak bisa diterima. Wahai para pria, kapan anda akan berhenti mengomentari busana wanita? Kita juga dengar ucapan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan John Reid yang memberikan pernyataan yang tidak pantas tentang nikab, padahal desa asal mereka adalah perbatasan Skotlandia dimana para pria di sana mengenakan rok! Lalu kita juga temukan para anggota dewan parlemen yang ikut-ikutan menggambarkan nikab sebagai penghalang komunikasi. Benar-benar ucapan tidak berkualitas. Lalu bagaimana mereka menjelaskan fenomena ponsel, email, radio, sms dan faks yang dalam sehari-harinya mereka tidak pernah melihat wajah seseorang.
Mayoritas para akhwat yang saya kenal yang mengenakan nikab adalah wanita kulit putih, yang masuk Islam dan tidak lagi menginginkan sorotan, rayuan laki-laki dan perilaku mereka yang tidak senonoh. Asal tahu saja, ada sepasang akhwat di London yang saya kenal yang mengenakan niqab saat demo anti Perang karena tidak tahan dengan bau rokok. Saya khawatir Islamophobia telah menjadi bidikan kaum rasis. Tetapi secara pengecut, kaum chauvinis pria dan kaum wanita muslim sekuler kiri bergabung menyerang busana muslimah yang tidak lagi bisa ditolerir oleh para muslimah.Saya sendiri bertahun-tahun adalah feminis dan hingga sekarangpun masih menjadi feminis muslim yang berjuang untuk kepentingan kaum wanita. Bedanya adalah, wanita feminis muslim adalah jauh lebih radikal ketimbang teman feminisnya yang sekuler. Kita semua benci kontes kecantikan dan berusaha keras untuk tidak tertawa melihat adanya Miss Afghanistan yang mengenakan bikini sebagai bukti pembebasan wanita di Afghanistan.
Saya telah kembali ke Afghanistan beberapa kali dan saya bisa katakan bahwa tidak ada wanita karir yang bangkit dari reruntuhan di sana. Wanita muslimah Afghan berharap kepada saya agar Barat tidak terlalu terobsesi dengan Bhurka yang mereka kenakan. “Jangan perjuangkan kami untuk menjadi wanita karir, tapi carikan pekerjaan buat suami kami. Tunjukkan bahwa kami bisa mengirim anak-anak ke sekolah secara aman tanpa takut diculik. Berikan kami keamanan dan makanan di meja makan,” demikian kata seorang wanita muslimah kepada saya. Muslim feminis muda melihat kerudung dan nikab sebagai simbol politik dan persyaratan agama sekaligus. Ada yang menganggap bahwa ini adalah simbol perlawanan mereka terhadap gaya hidup Barat yang sarat dengan mabuk-mabukan, seks bebas, dan narkoba.
Superioritas dalam Islam tumbuh karena ketaqwaan, bukan kecantikan, kekayaan, kekuasaan, posisi, maupun jenis kelamin.
Sekarang katakan kepada saya mana yang lebih membebaskan. Apakah dengan melihat seberapa pendek rok yang saya kenakan dan ukuran payudara, atau dengan menilai karakter, pikiran dan kecerdasan? Majalah-majalah memberikan pesan kepada wanita kalau mereka tidak tinggi, langsing dan cantik maka mereka tidak akan dicintai dan diinginkan. Tekanan kepada para pembaca majalah remaja untuk memiliki pacar pun sangat menjengkelkan. Islam berkata kepada saya bahwa saya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan adalah tugas saya untuk mencari ilmu, baik ketika saya masih lajang atau sudah menikah.
Tidak ada di dalam Islam bahwa kami sebagai wanita harus mencuci, membersihkan rumah, atau memasak demi para pria. Tapi tidak hanya laki -laki muslim yang wajib mempelajari kembali perannya di masyarakat. Coba cek kata-kata Pat Robertson di tahun 1992 tentang pandangannya terhadap wanita. Lalu katakan kepada saya mana yang lebih beradab. Dia berkata,” Feminisme mendorong wanita untuk meninggalkan suami mereka, membunuh anak-anak, melakukan sihir, menghancurkan kapitalisme, dan menjadi lesbian.” Ini adalah kata-kata orang Amerika yang hidup semasa Jahiliyah yang perlu dimodernisasi dan di-adab-kan. Sosok seperti inilah yang justru mengkerudungi penglihatan mereka dan kita perlu membuka kerudung kejahilan mereka sehingga bisa membiarkan masyarakat dunia untuk melihat Islam dengan mata kepala mereka sendiri sebagaimana apa adanya.
“Yvonne Ridley, Former Taliban Captive, Convert to Islam” sumber :
http://yvonneridley.org/yvonne-ridley
Thanks to : Bpk Imam Nurfakeh
Saturday, January 3, 2009
Syifa & Fikri ke Balikpapan
Hari ini tiba-tiba keingat keluarga Om Mawan dan Tante Hani plus tentu saja Fikri dan Syifa. Dan begitu ditelepon ternyata emang benar ada berita bahwa Fikri baru aja di Sunat tanggal 1 Jan kemarin…. Wah selamat ya Mas Fikri. Udah tambah besar dong sekarang.
Nah inget-inget mereka….jadi keinget waktu mereka masih tinggal di Banjarmasin. dan di awal November 2005 mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi kami di Balikpapan. Uh senangnya ada saudara dekat datang…maklumlah kita khan tinggal jauh di lain pulau jadi kalau ada saudara yang berkunjung wah rasanya seperti mukjizat….he…he…
Ini dia ceritanya…..Akhirnya kesampaian juga Keluarga Om Mawan (adik Mas) bisa ngunjungi kita di Balikpapan. Mereka berangkat dari Banjarmasin tanggal 31 Oct melalui jalan darat jadi pastilah mereka harus menggunakan ferry. Wah Asyik banget ya……Ini foto cantik Syifa di kapal ferry ….. Fikrinya nggak kelihatan tuh….




Hari ke 2 atau tanggal 3 November 2005 bertepatan dengan Idul Fitri…..setelah sholat di Lapangan Merdeka kita trus agak bingung mau kemana ya enak-nya liburan seperti ini apa ya ada tempat wisata yang bisa dikunjungi…..Trus kita nyoba aja jalan ke tempat Penakaran Buaya di daerah Tritip….dan Alhamdulillah ternyata tempatnya buka…kita jadi bisa ketemu sama “Happy dan Mira ibunya” (mereka ini gajah-gajah yang ada di penakaran itu juga)




Puas lihat buaya dari yang masih bayi sampai yang sudah kakek-kakek trus nepuk-nepuk si Happy-Gajah ramah, dalam perjalanan kita sempatin mampir ke Pantai Manggar….apalagi yang dicari kalau bukan Es Kelapa Muda…..ehm nikmat…..Nah ternyata anak-anak sudah nggak sabar lagi pingin nyebur ke pantai….wah cerianya mereka….dan untungnya ada baywatch dadakan kita yaitu Om Mawan. Puas main air mereka pada minta dikubur dipasir……





Hari ke tiga kemana lagi ya enaknya…..oh ya berhubung masih suasana liburan jadi ya kita gagal untuk ngajak syifa dan fikri menikmati Kepiting Tambora…..dan sebagai gantinya kita makan Coto Makasar aja ya di pinggir pantai karena ternyata mereka nggak kenal yang namanya liburan…buka terus…..Trus kita jalan ke Balikpapan Baru Plaza…..apalagi kalau nggak ngajak anak-anak main dia arena bermain……Duh Nadia senangnya punya teman-teman yang bisa diajak main.....Tapi sayang ya Nad Fikri dan Syifa harus balik lagi ke Banjarmasin


Wah kapan lagi ya mereka bisa datang mengunjungi kita……kita tunggu loh.
Friday, December 26, 2008
KPC - Memorable Moments
“Lapangan Terbang Tanjung Bara” menjadi saksi perjalanan hidup para pengelana-pengelana muda yang merantau di tanah Sangatta. Menjalani kehidupan bujangan, bertemu pasangan hidup, membina keluarga di tanah perantauan nun jauh di pelosok....sebagian teman-teman masih ada yang bertahan di sana….dan sebagian lagi melanjutkan pengembaraan bersama angin yang berhembus. Aku ingat foto ini diambil sewaktu kami mengantarkan Masduki untuk meneruskan pengembaraannya melanjutkan studi ke Aussie. Ada Mbak Yani, Masduki, Mbak Nur, Nana, Mbak Wiwin, Dewi, Mbak Hayu, Atik (yang segera menyusul study ke Aussie) dan Endah.
Barak 25 dengan 10 kamar plus penghuninya yang selalu berganti-ganti menjadi “home sweet home”. Persahabatan terjalin di rumah kayu ini. Bebagai pengalaman unik mengisi lembaran-lembaran hidup yang nggak mudah terlupakan. Pernah suatu hari karena ketinggalan kunci depan….dan cuma kamar di tengah bangunan itu yang terbuka (kamar Mbak Wiwin)…aku memutuskan untuk memanjat. Kupikir sih pendek aja ternyata woooooh lumayan tingginya.
Kamar sederhana ini menjadi saksi sejarah dimana aku harus mulai segalanya dari awal….jatuh bangunnya aku meniti karier…Tuh ada yang ikut nampang….si Bonny Gajah Kelabu yang kubeli di Samarinda (orang-orang pada jengkel sama dia…sampai pernah di plintir belalainya, trus disembuyiin di lemari peralatan Mbak Petris……ih kejam….kejam…..).
Gang Barak 25 waktu aku datang pertama kali….ada Endah (yang sekarang sudah ikut Mas Yunus-nya ke New Zealand), Mbak Ririn (yang ceria plus centil…Makasih ya mbak nitipin boneka penguin purple-nya), Mbak Petris (si Ratu Masak….enak kalau dia lagi stress pasti bikin kue. Empek2 dan Tekwan-nya top habis deh)….Mbak Wiwin (the Wise Girl….makasih ya mbak mau dengerin curahan hati selama ini…I always feel like at home), Mbak Yulia (si kutu komputer yang sangat sayang ama Nadia…..Mbak satu ini sangat perhatian sama teman deh….nggak ada duanya), Mbak Pur (pencinta anak….ini sih harus berhubung dia khan guru TK….plus orang yang ceria banget), dan partner Mbak Yulia (sorry banget belum inget namanya….habis dia cuman sebentar aja sih mangkal di KPC).
Lunch Member …..Lunch member ini kumpulan bujangan plus bapak-bapak yang sudah nggak doyan lagi dengan makanan camp. Jadi kalau makan siang kita biasanya cabut ke depot Ikan Bakar….dan karena waktu itu aku masih di Payroll jadi keikut deh menikmati…..Biasanya kita juga jadikan kesempatan ultah atau kenaikan promosi untuk menjadi ajang saling traktir mentraktir……Uh….kebayang deh kepala ikan, pepes patin…..nyam-nyam.













